BangkaPos/

Di Akprind, Dwi Hartanto Jago Bikin Robot Sampai Kuliah di Belanda, Ini Curhat Ibunya

Skripsinya berhubungan dengan rekayasa robotika yang digelutinya selama menjadi mahasiswa S1.

Di Akprind, Dwi Hartanto Jago Bikin Robot Sampai Kuliah di Belanda, Ini Curhat Ibunya
Kompas.com/Muhlis Al Alawi
Sulastri, memegang foto wisuda anaknya, Dwi Hartanto yang lulus mengenyam pendidikan di Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind, Rabu ( 11/10/2017).

Dia mengaku tak memiliki cara khusus untuk mendidik kedua putranya, hingga menjadi anak yang berprestasi.

Kedua anaknya memang disiplin dalam belajar. Selain itu Dwi tidak pernah meninggalkan shalat dan membaca Al-Quran.

Sulastri terpaksa menjual usaha wartel miliknya untuk membiayai kuliah putranya.

Dia pun berpesan kepada kedua putranya, meski berasal dari keluarga yang pas-pasan, namun tidak boleh patah semangat.

Mengenai perbuatan yang dilakukan Dwi,  Sulastri meminta semua pihak memaafkan anaknya.

"Saya berharap seluruh warga Indonesia memaafkan anak saya. Begitu juga dengan teman-temanya, guru, dosen mau memaafkan anak saya," ucapnya sambil menangis.

Dia menuturkan, setiap manusia pastilah tidak akan luput dari khilaf.

Untuk itu bila anaknya salah, sebagai ibunya, Sulastri meminta maaf kepada semua pihak. 

"Saya juga berpesan kepada Dwi agar menjadi orang yang baik dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Selain itu saya juga minta dia tidak sombong dan bersikap baik kepada siapa saja," katanya.

Saat ini Sulastri mengaku kangen dengan Dwi. Dia berharap anak bungsunya itu pulang menjenguk dirinya yang tinggal sendirian.

Terakhir, Dwi pulang ke Madiun untuk menghadiri acara 40 hari meninggalnya ayah kandungnya, awal Januari 2017.

Sejak melanjutkan kuliah di Belanda, Dwi memang jarang pulang. Untuk berkomunikasi, Dwi menelpon nomor ponsel tetanganya dan meminta disambungkan kepada dirinya.

"Biasanya sebulan Dwi kirim uang dua hingga tiga juta," sebut dia.

Akhir tahun 2016 silam, tepatnya 17-24 Desember 2016, lebih dari 40 orang peneliti diaspora yang mengajar dan meneliti di berbagai negera datang ke acara Visiting World Class Professor.

Acara itu diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional.

Salah satu peserta adalah Dwi Hartanto. Ia juga disebut sebagai “Penerus Habibie”, Presiden Ke-3 Indonesia dan tokoh besar dalam bidang teknologi.

Tapi ternyata semua yang dikatakan Dwi dalam berbagai kesempatan cuma klaim.

Melalui klarifikasi dan permohonan maaf yang diunggah di situs Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft, Dwimemberikan klarifikasi soal sejumlah klaimnya.

Penulis: Alza Munzi
Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help