BangkaPos/

Kekerasan Guru Terhadap Siswa Tidak Hanya Dilihat dari Satu Persfektif Saja

Bustami Rahman mengatakan persoalan dugaan tindakan kekerasan guru terhadap siswa tidak hanya dilihat dari satu persfektif saja

Kekerasan Guru Terhadap Siswa Tidak Hanya Dilihat dari Satu Persfektif Saja
bangkapos.com/dok
Prof Dr Bustami Rahman 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bustami Rahman mengatakan persoalan dugaan tindakan kekerasan guru terhadap siswa tidak hanya dilihat dari satu persfektif saja.

Bustami menjelaskan, sebelum adanya kebijakan publik terkait hak asasi manusia dan kebebasan lainnya. Pendidikan sepenuhnya masih diserahkan pada kebijaksaan guru, guru dianggap memiliki otoritas kewibawaan dan marwah yang tinggi sekali dimata masyarakat luas terutama orangtua murid.

"Kalau dulu mengadu kepada orang tua dimarahi guru, dipukuli guru, nanti orangtua bilang kalau kamu dipukuli guru berarti kamu yang salah, karena pasti salah kalau sudah dimarahi guru," kata Bustami, Kamis (12/10/2017).

Menurutnya, saat ini kondisinya sudah berbalik, dimana guru memiliki keterbatasan dan dikekang dalam mendidik, padahal menurutnya penanganan dan cara mendidik anak-anak berbeda, ada beberapa yang perlu didik dengan cara yang khusus.

"Kemarin pada waktu mengundang guru, ada ibu guru menyampaikan ke kami dia bilang kalau begini caranya apa-apa salah kami, kami jadi tidak peduli lagi pada murid mau merusak mau narkotika, karena kalau kami tegur orangtuanya marah, lebih baik kami enggak tegur, itu sampai ngomong begitu gurunya," tambah Bustami.

Tak hanya itu, menurutnya merebaknya persoalan ini juga disebabkan faktor kebebasan dan otoritas media yang menggambarkan sesuatu bagi publik yang begitu ekstensif.

"Misalnya kata-kata dimedia terutama media online itu anak dicubit yang muncul dibahasanya itu dianiaya yang berarti kan disakiti secara snegaja. Ini kan menimbulkan makna berbeda, dan ini berkembang dan ditanggapi publik bahwa guru yang salah," katanya.

Lanjutnya, faktor lain yakni berkaitan dengan HAM yang membuat lemahnya kewibawaan otoritas guru, akibatnya guru terkekang. Hal ini juga disebabkan dengan meningkatkan kualitas pendidikan orangtua murid.

"Kalau dulu guru itu lebih pinter dari orangtua, sekarang orangtua sudah S2 dan s3. Itu membuat otoritas guru menjadi organited akibat pendidikan secara signifikan," ujarnya.

Melemahnya pengawasan guru di sekolah, juga tidak bisa disalahkan karena juga lemahnya proses parenting orangtua.

Halaman
12
Penulis: krisyanidayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help