BangkaPos/

Perempuan di Desa Terpencil Masih Minim Pengetahuan

Dalam rangka meningkatkan peran lembaga, organisasi, dan profesi terkait penanganan masalah perempuan dan anak, Kamis (12/10).

Perempuan di Desa Terpencil Masih Minim Pengetahuan
bangkapos.com/Idandi Meika Jovanka
Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak menggelar kegiatan peningkatan kapasitas lembaga masyarakat di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak menggelar kegiatan peningkatan kapasitas lembaga masyarakat di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Dalam rangka meningkatkan peran lembaga, organisasi, dan profesi terkait penanganan masalah perempuan dan anak, Kamis (12/10).

Acara dilaksanakan di Hotel Bangka City Pangkalpinang. Di hadiri berbagai instansi dan lembaga di Pangkalpinang, diantaranya P2H2P, Muhammadiyah, PGRI Babel, LSM Juwita, dan lain-lain.

Kartika Sari Dosen PSW STAIN SAS Bangka Belitung selaku moderator membahas perihal proposal buat kegiatan pemberdayaan perempuan.

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (PPPA) Provinsi Bangka Belitung, Susanti mengatakan tercatat 63 korban kekerasan perempuan, seperti KDRT, pemerkosaan, dan penelantaran pada tahun 2016 di Pangkalpinang.

Ia menyebutkan seiring waktu tingkat keberanian korban melaporkan tindakan kekerasan terhadap perempuan semakin tinggi dan baik. Sejumlah upayanya, yaitu mengurangi tingkat kekerasan, angka perdagangan orang, dan mengakhiri kesenjangan ekonomi perempuan di Provinsi Bangka Belitung.

“Saya ingin mengajak masyarakat turut serta berpartisipasi dengan melaporkan tindak kekerasan terhadap perempuan di sekitarnya kepada pihak berwengan atau lembaga terkait,” kata Susanti

Satu diantara peserta kegiatan, Uteni dari LSM Juwita menyampaikan saran kedepannya ada pemberian penghargaan. Guna menyemangati pekerja sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Terutama, Ibu-ibu di Desa terpencil yang peduli dan mempelopori gerakan perempuan.

“Mereka pasti tidak mengharapkan itu. Namun, adanya penghargaan membuat lebih semangat dan menghargai upaya mereka,” kata Uteni

Ia juga menyebutkan hal tersebut sebagai dukungan terhadap perbuatan positif semoga bisa ditularkan kepada perempuan lain. Sehingga lebih banyak yang peduli terhadap kondisi sekitar. Mengingat sejumlah perempuan di Desa terpencil belum mendapatkan pengetahuan mendalam terkait KDRT, penjualan orang, dan kekerasan anak.

“Perempuan di Desa terpencil masih minim pengetahuan buat melaporkan. Semoga dengan adanya penghargaan kepada srikandi-srikandi dapat memantik kepedulian dan gerakan perempuan,” ujar Uteni.

Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help