Suami Mesti Tahu, Istri Sering Menderita Ini Saat Dipoligami

Sebuah studi yang dilakukan Dr. Rana Raddawi mengungkap bahwa perempuan yang dipoligami sering menderita emosi negatif.

Suami Mesti Tahu, Istri Sering Menderita Ini Saat Dipoligami
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Ketika berbicara mengenai poligami, isu yang berkembang bukan semata tentang hati yang terbagi.

Lebih kompleks dari itu, apa yang disebut keadilan meliputi sangat banyak sisi.

Sebuah studi yang dilakukan Dr. Rana Raddawi, professor di Departemen Bahasa Inggris American University of Sharjah tentang perasaan perempuan yang dipoligami, mengungkap bahwa perempuan yang dipoligami sering menderita emosi negatif.

//

Perasaan tersebut memang sudah bisa diprediksi.

Dan, perasaan perempuan-perempuan itulah yang seharusnya menjadi pijakan awal saat pria berencana menikah lagi.

//

Baca: Sebelum Bunuh Suaminya, Istri Ketua DPRD Kolaka Utara Minta Ini Tapi Ditolak

Dari hasil surveinya, Dr. Raddawi juga menemukan bahwa banyak dari perempuan yang dipoligami ini merasa diabaikan dan cemburu.

Lebih lanjut, perasaan ini memancing emosi-emosi negatif berkembang dalam diri perempuan tersebut.

“Mengapa saya melakukan penelitian tentang poligami? Karena saya punya banyak kenalan dan anggota keluarga yang terlibat dalam poligami. Dan, banyak dari mereka menderita,” ungkapnya.

Ia pun mengaku, selama ini ia menyaksikan konsekuensi yang menyedihkan.

“Seorang perempuan tak punya tempat tinggal dan tak punya dukungan keuangan karena poligami.”

Baca: Astaga! Geng Siswi SMA Hajar Teman Sendiri, Belum Puas Lalu Unggah Videonya ke Instagram

Maka, ia memfokuskan penelitiannya pada emosi-emosi negatif yang dialami perempuan-perempuan dalam pernikahan poligami.

Ia mengungkap, saat pria yang poligami memiliki kewajiban untuk memperlakukan setiap istri dengan keadilan, kewajaran, dan kesetaraan, buktinya banyak responden yang mengaku bahwa kondisi itu tak terjadi pada dirinya.

Hak-hak itu banyak yang tak dilakukan. Dr Raddawi mencatat, sejumlah responden mengaku sering ditinggalkan dan jarang melihat suami mereka.

Banyak pula yang mengatakan bahwa suami tidak memenuhi kebutuhan mereka, baik berupa dukungan moral maupun finansial.

"Padahal sebelum memutuskan poligami, pria harus memastikan bahwa pria harus adil pada istri dan anak-anaknya dalam hal keuangan, dukungan moral, cinta, perhatian, perawatan, dan pendidikan."

Baca: Vanessa Angel Gagal Menikah dengan Cucu Bung Karno, Jane Shalimar Bilang Sujud Syukur

Dr Heba Sharkas, konselor di Al Amal, Pusat Masalah Keluarga di Abu Dhabi, mengatakan seorang pria harus menikahi istri kedua hanya jika ia memiliki kemampuan untuk memberikan perawatan dan perhatian yang sama untuk masing-masing istri dan anak-anaknya.

“Saat seorang pria berkehendak memiliki beberapa istri, ia harus menjamin dirinya aman secara finansial dan emosional. Tanggung jawab adalah faktor yang paling penting.”

Dr Sharkas mengutarakan, ia sangat mengerti emosi perempuan ketika mengetahui suaminya hendak memperistri perempuan lain.

Baca: Egy Maulana Vikri Ikuti Jejak Dua Bocah Ajaib Bernasib Tragis Ini

"Dalam beberapa kasus, perempuan yang dipoligami merasakan depresi, amukan amarah, histeris, bahkan ada pula yang berlanjut pada penyakit. Hal ini tergantung pada toleransi istri. Lingkungan di mana perempuan itu tumbuh juga mempengaruhi faktor penerimaannya atas poligami.”

Ia menegaskan, setiap pria harus mempertimbangkan hal ini saat ia berencana menikah lagi.

Suami juga harus menjelaskan apa tujuannya menikah lagi pada sang istri pertama. (Intisari Online)

 
Editor: fitriadi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved