BangkaPos/

Delapan Pasang Pengantin Ikuti Tradisi Nikah Massal Desa Serdang

adat nikah massal sudah menjadi adat turun temurun dilaksanakan dan dipertahankan sejak tahun 1943 hingga sekarang

Delapan Pasang Pengantin Ikuti Tradisi Nikah Massal Desa Serdang
Istimewa
Ritual Adat Pernikahan Massal berlangsung di Desa Serdang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, pada Sabtu (28/10/2017) siang 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Riki Pratama

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Tradisi Pernikahan Massal kembali digelar di Desa Serdang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, pada Sabtu (28/10/2017) siang

Kali ini sebanyak delapan pasangan pengantin ikut dalam acara nikah massal tersebut.

Mereka yang menikah, melakukan resepsi secara bersama sama di halaman kantor Kades Desa setempat, dengan dihadiri oleh semua warga Desa serta tamu undangan lainya.

Kades Serdang Apendi menjelaskan bahwa adat nikah massal sudah menjadi adat turun temurun dilaksanakan dan  dipertahankan sejak tahun 1943 hingga sekarang.

Nikah masal ini merupakan agenda desa dan Pemkab Bangka Selatan, sehingga menjadi salah satu cara untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin melihat prosesi pernikahan massal di Desa Serdang.

"Yang mengikuti kawin massal tahun ini sebanyak delapan pasang, ada empat pasang sudah melaksanakan ijab kabul dan ada empat pasangan yang baru akan melaksanakan ijab kabul, setelah selesai mereka nantinya dikumpulkan pada panggung untuk menjalankan resepsi pernikahan,"ujar Kades kepada wartawan, Sabtu (28/10/2017).

Dimana, sambungnya sebelum di laksanaan pernikahan, pihak Pemdes melakukan pengumuman untuk mencari para peserta yang ingin mengikutinya, tidak ada kriteria khusus untuk calon pengantin, hanya saja perlu cukup umur.

Apendi menjelaskan bahwa asal muasal pernikahan massal yaitu cerita orang terdahulu di Desa Serdang, yang saat itu terkendala masalah perekonomian, banyak warga panen hasil berkebun, pada saat itu, mereka saling membantu untuk mengumpulkan hasil panen lalu bersama sama masyarakat lainya melaksanakan pernikahan massal.

"Ada hasil padi, yang menghidupkan ternak ayam, semua bergabung untuk di jadikan laut pauknya. Jadi mereka kumpul pada saat itu laksanakan setiap bulan Oktober karena waktunya habis panen semuanya,"ujarnya.(*)

Penulis: Riki Pratama
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help