BangkaPos/

Sukses Rontokkan Puluhan Ribu Pesawat Sekutu, Siapa Sangka Begini Sejarah Pembuatan Pesawat Ini

Lebih dari 15 ribu unit psawat tempur Sekutu dirontokkan oleh para pilot Bf-109 Nazi. Sedangkan pesawat tempur Rusia yang

Sukses Rontokkan Puluhan Ribu Pesawat Sekutu, Siapa Sangka Begini Sejarah Pembuatan Pesawat Ini
ArtStation
Pesawat Bf-109 

 BANGKAPOS.COM--Jauh-jauh hari sebelum Perang Dunia II meletus, persisnya pada 1930, Angkatan Udara Jerman Luftwaffe telah memiliki rencana mutakhir untuk memiliki pesawat pembom tempur.

Acuan Luftwaffe guna mewujudkan pesawat impian itu adalah rancangan pesawat tempur yang dibuat oleh Willy Messerschmitt bernama Bf -108.

Sebagai pesawat tempur yang sudah teruji kemampuannya, Bf-108 merupakan pesawat andalan Luftwaffe pada masa itu.

Tapi karena tipe Bf-109 sangat dibutuhkan, Lufwaffe lalu memerintahkan  Messerschmitt dan industri pesawat Jerman, Arado, Focke Wulf, dan Heinkel, segera mewujudkan rancangannya.

Tapi dari sekian industri penerbangan yang ditawari Luftwaffe hanya Heinkel yang serius menanggapi kompetisi dan dipercaya untuk memproduksi 10 unit prototipe He-112 dan Bf 109.

Setelah mendapat persetujuan Luftwaffe, Heinkel kemudian melaksanakan  proses produksi massal prototipe Bf-109 di Spanyol.

Jerman sengaja memproduksi Bf-109 secara kucing-kucingan di Spanyol karena masih terikat dengan perjanjian (Versailles Treaty)  yang ditandangani setelah Jerman dinyatakan kalah dalam Perang Dunia I.

Salah satu poin perjanjian yang tertuang di Versailles Treaty adalah pelarangan militer Jerman untuk memiliki tank, pesawat tempur, dan senjata berat lainnya.

Untuk mengurangi kecurigaan negara-negara pemenang perang (PDI) khususnya Sekutu, Luftwaffe sengaja menggunakan mesin Rolls Royce  bagi Bf-109 produksi pertama dan diimpor dari Inggris.

Penggunaan mesin Rolls Royce bagi kesuksesan produksi pertama itu merupakan hal yang ironis karena dalam PD II, Bf-109 merupakan pesawat andalan yang digunakan untuk menggempur ke Inggris dalam Battle of Britain.

Halaman
123
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help