Kisruh Kursi Wabup Bateng, Ibrahim: Akrobat Politik Bupati Campur Aduk

Akrobat politik ini nampaknya runyam karena kontestasi kepentingan justru terjadi di sebuah kelompok kecil partai pengusung

Kisruh Kursi Wabup Bateng, Ibrahim: Akrobat Politik Bupati Campur Aduk
ibrahim 

Menurut Ibrahim, posisi ganda ini harus dijernihkan. Sebagai ketua parpol, Ibnu Saleh menurutnya harus mampu bermusyawarah dengan kolega parpol lainnya, namun sebagai bupati ia harus mampu menempatkan diri hanya sebagai user yang 'memasrahkan' keputusan kepada parpol pengusung sesuai amanat UU No.10/2016.

“Tentu setiap parpol punya logika sendiri dalam mengusulkan kandidat dan itu harus dihargai sebagai hak preorogatif tiap parpol. Saya kira salah satu alasan substansial mengapa parpol harus diperkuat adalah agar menghindari tirani pengambil kebijakan,” ujarnya.

Lebih lanjut Akrobat politik yang semakin memukau justru agaknya akan semakin menunjukkan ukuran kapasitas komunikasi dan lobi politik sang bupati.

“Ini kemudian akan mengarah pada kurasan energi yang tidak sedikit, padahal sebenarnya sinergi bisa dibangun melalui pendekatan yang efektif dan saling akomodatif. Politik akan menjadi sulit dan berat jika para pihak terus mendaku dengan kepentingan masing-masing,” ujarnya.

Kesimpulan Ibrahim, dalam dunia politik kita mengenal istilah kompromi politik. Tentu syaratnya adalah keharusan adanya penurunan kadar ekspektasi para pihak.

“Tanpanya, akrobat politik akan terus berlanjut. Publik, juga banyak parpol di legislatif sana, masih terus menonton ke arena 'kecil' itu,” tukasnya.

Penulis: teddymalaka
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help