BangkaPos/

Selain Micin, Ini 4 Makanan yang Bisa Membuat Otak Kita Lemot

Berdasarkan penelitian, selain micin, empat makanan ini juga berbahaya buat otak.

Selain Micin, Ini 4 Makanan yang Bisa Membuat Otak Kita Lemot
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM --  Belakangan ini, di media sosial lagi ramai penggunaan kata “Generasi Micin”.

Kata tersebut bermaksud sebagai kata untuk mengejek orang-orang yang dianggap kurang pintar karena pengaruh micin.

Namun rupanya, micin bukan satu-satunya hal yang bisa bikin kemampuan otak kita menurun, lho.

//

Baca: Nakal Boleh Goblok Jangan, The Real Kids Zaman Now Ini Nekat Makan 1 Sendok Micin

Tak percaya? Berdasarkan penelitian, selain micin, 4 makanan ini juga berbahaya buat otak!

//

1. Tahu

Bahan dasar tahu adalah kacang kedelai, nah sebenarnya ada kontroversi soal kedelai sih, yaitu dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Demensia and Geriatric Cognitive Disorders.

Penelitian itu menyebutkan, asupan tinggi tahu, yaitu sembilan porsi lebih perminggu, dapat meningkatkan risiko penurunan kognitif dan kehilangan memori.

Studi ini menganalisa konsumsi tahu dari 719 pria dan wanita Indonesia, lalu meminta mereka melalui serangkaian tes memori.

Baca: Edan! Pria Ini Makan Ayam Kriyuk Cocol Sabun Colek

Mereka yang makan lebih dari 9 porsi tahu dalam seminggu menghadapi penurunan daya ingat lebih besar dari mereka yang tidak makan tahu.

Untuk itu, temuan ini menunjukkan asosiasi dan bukan sebab-akibat.

Namun, para peneliti menduga bahwa fitoestrogen yang terkandung pada tahu mungkin bertanggungjawab terhadap penurunan fungsi otak tersebut.

Kebalikan dari tahu, para peneliti menemukan bahwa tempe dapat meningkatkan kemampuan mengingat seseorang.

Nah, kamu pilih yang mana?

2. Gajih di Bakso

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal PLoS One menemukan bahwa mengkonsumsi lemak trans atau gajih dalam bakso misalnya, terlalu banyak dapat menyebabkan seseorang kesulitan mengingat kata-kata.

Studi ini diikuti 1.018 relawan yang mengonsumsi lemak trans mulai dari 3,8 gram - 27,7 gram perhari.

Untuk setiap gram lemak trans yang dikonsumsi setiap hari, peserta mengalami penurunan ingatan sebesar 0,76 kata.

Baca: Fantastis! Nilai Korupsi Pangeran dan Pejabat Arab Saudi Rp 1.351 Triliun

Itu artinya, relawan dengan jumlah konsumsi lemak trans tertinggi, hanya dapat mengingat 65 kata dengan benar, sedangkan rata-rata peserta lain dapat mengingat 86 kata.

Coba di tes deh, inget kata-kata pacara atau mantan? #Lah

3. Tuna

Masih menurut sebuah studi juga yang dimuat dalam jurnal Integrative Medicine, orang yang makan lebih dari tiga porsi perminggu jenis ikan yang ada pada jenjang rantai makanan yang tinggi, seperti tuna, tongkol, kakap, dan kerapu berrisiko tinggi mengalami disfungsi kognitif.

Maksudnya melemahkan kemampuan kognisi alias lemah dalam memproses pengetahuan, terutama kesadaran dan perasaan. 

Penyebabnya adalah tingginya kadar merkuri dalam ikan-ikan tersebut, tentu saja.

Makanya, para peneliti menganalisa kebiasaan mengonsumsi makanan laut (sea food) 384 orang, kemudian meminta mereka melalui serangkaian tes kognitif. Terlihat bahwa mereka dengan kadar merkuri tertinggi dalam darah, mendapatkan hasil tes yang paling rendah dibanding peserta lainnya.

4. Gorengan

Suka makan gorengan? Nih, para peneliti di University of Montreal menemukan bahwa pola makan tinggi lemak jenuh (50% dari semua kalori berasal dari lemak yang tidak sehat, seperti minyak kelapa sawit atau mentega) dapat menyebabkan gangguan fungsi dopamin di mesolimbic otak.

Ini adalah bagian otak yang mengatur motivasi dan rasa bahagia.

Baca: Inilah Sisi Gelap Dokter Helmi yang Tembak Mati Istrinya

Gangguan pada area ini disinyalir bisa memicu gangguan mood, kecanduan narkoba, dan makan berlebihan, diet tinggi lemak tak jenuh tunggal, seperti minyak zaitun, justru menunjukkan efek terbalik dari lemak jenuh tunggal. (Hai.grid.id)

Artikel ini sebelumnya dimuat Hai.grid.id dengan judul, Selain Micin, 4 Makanan Ini Juga Berbahaya Buat Otak!

 
Editor: fitriadi
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help