BangkaPos/

Fakta tentang 1.300 Warga di Papua Disandera, Sebut TNI-Polri Tipu-tipu Hingga Nama DPO

Fakta tentang 1.300 Warga di Papua Disandera, Sebut TNI-Polri Tipu-tipu Hingga Nama DPO

Fakta tentang 1.300 Warga di Papua Disandera, Sebut TNI-Polri Tipu-tipu Hingga Nama DPO
Wikipedia
PETA Papua 

Kapolda Papua Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar mengungkapkan, saat ini kelompok kriminal bersenjata (KKB) di bawah pimpinan Sabinus Waker kembali merusak fasilitas publik di Distrik Tembagapura, dengan menggunakan alat berat untuk menutup jalan umum dari Kampung Utikini ke Kampung Banti dengan tumpukan batu.

“Anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) mencuri alat berat berupa eksavator milik PT Freeport untuk merusak satu-satunya akses jalan darat dari Utikini ke Kimbely,” ungkapnya.

Untuk mengoperasikan alat berat itu, kelompok ini menculik salah satu pegawai subkontraktor Freeport.

“Saat ini kami masih menelusuri identitas pegawai tersebut,” kata Boy.

Aksi penutupan jalan oleh KKB, lanjut Boy, mengganggu upaya evakuasi warga di Utikini, Kimbely dan Banti.

”Saat ini kami mengupayakan langkah negosiasi dengan tujuan upaya evakuasi berjalan aman, namun upaya evakuasi warga sepertinya semakin sulit,” paparnya.

Kelompok Bersenjata Sandera 1.300 Warga di Papua

Setidaknya ada 1.300 orang dari dua desa, yakni Desa Kimbely dan Desa Banti, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, yang dilarang keluar dari kampung itu oleh kelompok bersenjata.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan, diduga, motif kelompok kriminal bersenjata (KKB) menyandera warga di Papua karena motif ekonomi. Kelompok tersebut memanfaatkan hasil kerja warga di sana yang rata-rata bekerja sebagai pendulang.

"Sampai sejauh ini komunikasi yang kita dapatkan warga masih baik-baik saja. Memang secara fisik mereka tak mendapatkan kekerasan, tapi secara psikis orang dilarang dengan cara dibatasi kan ada," kata Setyo.

Halaman
1234
Editor: teddymalaka
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help