BangkaPos/
Home »

Lokal

» Bangka

Yusroni Sarankan Pemkab Bangka Buat Tapak Kawasan Laut, Jangan Sampai Diborong Pengusaha

Mantan Bupati Bangka H Yusroni Yazid memaparkan mengenai potensi kelautan di Bangka Belitung.

Yusroni Sarankan Pemkab Bangka Buat Tapak Kawasan Laut, Jangan Sampai Diborong Pengusaha
bangkapos.com/Nurhayati
Mantan Bupati H Yusroni Yazid ketika menjadi pembicara pada seminar temu wicara para tokoh presidium pembentukan babel jadi provinsi, Selasa (14/11/2017) di Gedung Sepintu Sedulang Sungailiat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Mantan Bupati Bangka H Yusroni Yazid memaparkan mengenai potensi kelautan di Bangka Belitung.

Diakuinya berdasarkan data dari lembaga resmi statistik potensi kelautan di Babel adalah peluang yang besar.

"Wilayah kita ini 79 persen dari laut ,20 persen lebih wilayah daratannya. Potensi luar biasa baru enam sekian persen dari pendapatan. Sekarang orang lagi ramai bikin tambak udang vaname. Sektor ini menyumbang penghasilan Rp 6 milyar hingga Rp 7 milyar dari dua tambak ini. Di Sungai Baturuaa ada dua perusahaan di Bedukang satu. Wilayah pantai jadi tambak udang vaname potensinya luar biasa. Di Belitung belum ada," jelas Yusroni ketika menjadi pembicara pada seminar temu wicara para tokoh presidium pembentukan babel jadi provinsi, Selasa (14/11/2017) di Gedung Sepintu Sedulang Sungailiat.

Dikatakannya, harga udang vaname serendahnya Rp 100.000 perkilo, untuk BS-nya di pasaran lokal harga udang itu perkilogram di atas Rp 50.000.

"Yang dikerjakan disini pemda tidak dapat apa-apa. Padahal potensi luar biasa. Pemda harus buat tapak kawasan jangan sampai semua kawasan laut diborong pengusaha semua, kita hanya jadi pekerja saja," saran Yusroni.

Diakuinya sulit untuk mencapai kedaulatan perikanan. Apalagi banyak persoalan dikeluhkan nelayan dimana perikanan tangkap semakin jauh untuk melaut dan ikan sulit didapat.

"Jangan sampai kita jadi penonton. Alat tangkap nelayan juga harus diperbaharui kalau cara lama tidak bisa lagi. Kalau cuma mengandalkan alat tangkap," ungkap Yusroni

Untuk itu ia menyarankan agar mengembangkan budidaya baik perikanan laut maupun ikan air tawar.

Saat ini konsumsi ikan masyarakat di Babel hanya 47 kilogram per tahun per kapita. Per bulan hanya 1,5 kilogram, sehari hanya 0,3 ons sangat minim padahalm orang Bangka tidak bisa tidak makan ikan.

"Harga ikan mahal saat musim ekstrem, harga turin kalau musim panen," kata Yusroni.

Oleh karena itu pengolahan ikan harus dilakukan. Dia mencontohkan di Surabaya sudah masuk dunia produk fina.

Dia menyarankan agar ikan jangan dijual dalam bentuk segar karena kebutuhannya terbatas tetapi dibuat dalam bentuk olahan.

Selain itu dibuat kemasan yang menarik agar bisa dipasarkan ke berbagai daerah hingga keluar negeri.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help