Melongok Tradisi Rebo Kasan, Ritual Tahunan yang Masih Lestari di Desa Air Anyir

Rebo Wekasan Adalah Hari Sakral untuk Rabu Terakhir di bulan Safar, berikut ulasan selengkapnya

Melongok Tradisi Rebo Kasan, Ritual Tahunan yang Masih Lestari di Desa Air Anyir
bangkapos/nurhayati
Wakil Bupati Bangka Rustamsyah memegang ketupat lepas saat perayaan Rebo Kasan, Rabu (14/11/2017) di Masjid Farhan Kamal Desa Air Anyir. 

BANGKAPOS.COM--Perayaan Rebo Kasan di Desa Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka sudah menjadi tradisi yang turun temurun dilaksanakan setiap tahun oleh warga Desa Air Anyir.

Ritual adat untuk menolak bala pada Tahun 2017 ini, jatuh pada hari Rabu (15/11/2017) dipusatkan di Masjid Farhan Kamal, yang merupakan masjid terbesar di Desa Air Anyir.

Prosesi ritual Adat Rebo Kasan diawali mengumandangkan adzan, berdoa, dan menarik ketupat lepas sebagai simbol melepaskan dari bala serta meminum air wafak yang telah dibacakan doa oleh sesepuh desa.

Rebo Wekasan Adalah Hari Sakral untuk Rabu Terakhir di bulan Safar, berikut ulasan selengkapnya.

Arba Mustamir adalah istilah yang digunakan untuk menyebut hari Rabu terakhir di bulan Safar.

Bagi sebagian kalangan menyakini bahwa hari Rabu terakhir di bulan Safar sangat sakral.

Seperti dilansir Tribunstyle.com dari Banjarmasin Post, Rabu (15/11/2017), selain masyarakat Air Anyir Kecamatan Merawang kabupaten Bangka, sebagian masyarakat Banjar masih memperingati Arba Mustamir hingga saat ini.

Safar adalah bulan kedua dalam kalender Islam atau Hijriah yang berdasarkan tahun Qomariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).

Bagi masyarakat Banjar, bulan Safar dianggap sebagai bulan sial, panas, atau dimana masa diturnkan bala dan harus diwaspadadi keberadaannya.

Bulan Safar dianggap buruk karena dinilai masa dimana segala penyakit, racun, dan hal-hal yang berbau magis memiliki kekuatan yang lebih dibanding pada bulan lainnya.

Dalam anggapan masyarakat kesialan bulan Safar akan semakin meningkat jika ketemu dengan Arba’ Musta’mir.

Sebetulnya tradisi ini juga dikenal di kalangan masyarakat Jawa.

Jika di Banjar dikenal sebagai Arba Mustamir maka di masyaralat Jawa disebut Rabo Wekasan.

Rabu Wekasan, Rebo Wekasan, atau Rebo Pungkasan adalah nama hari Rabu terakhir di bulan Safar pada Kalender lunar versi Jawa.

Pada hari itu biasanya dimulai rangkaian Adat Safaran hingga berakhir di Jumat Kliwon bulan Maulid/Maulud.

Upacara ini berupa Sedekah Ketupat dan Babarit di daerah Sunda kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap.

Keistimewaan hari ini yakni dimana satu satunya hari yang tidak tergantung pada hari pasaran dan neptu untuk melakukan suatu upacara adat.

Catatan dalam adat Kejawen hari pasaran dan neptu adalah sangat penting demi keselamatan dan berkah dari acara, kecuali pada hari ini.

Konon ini adalah hari datangnya 320.000 sumber penyakit dan marabahaya 20.000 bencana.

Maka rata-rata upacara yang dilaksanakan pada hari ini adalah bersifat tolak bala.

Di sebagian kalangan masyarakat Sunda juga dikenal istilah Arba Mustamir.

Menurut sebagian masyarakat Sunda bulan safar adalah bulan yang dianggap pamali untuk mengadakan pesta perayaan, seperti hajat pernikahan atau sunatan anak.

Beberapa mempercayai tentang mala petaka yang akan turun pada Rabu Wekasan.

Setidaknya ada dua musibah yang akan terjadi pada bulan ini, yaitu Paceklik Order dan Bulan Balae atau bulan bencana. (*)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved