Gus Sholah : Tingkatkan Rasa Percaya Hilangkan Saling Curiga

Masalah utama adalah korupsi dan penegakan hukum. Kalau SARA itu nomor empat, tetapi jangan dianggap tidak penting

Gus Sholah : Tingkatkan Rasa Percaya Hilangkan Saling Curiga
Bangkapos/Zulkodri
Seminar Wawasan Kebangsaan merajut kebersamaan dan kebhinekaan dalam penguatan persatuan dan kesatuan NKRI yang di gelar di Gedung Graha Timah Pangkalpinang, Jumat (17/11/2017). 

Laporan wartawan Bangka Pos, Zulkodri

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Tingkatkan rasa saling percaya dan hilangkan saling mencurigai merupakan salah satu cara menjaga serta  memperkokoh persatuan dan kesatuan ditengah keberagaman dan kebhinekaan di Indonesia.

Hal ini, diungkapkan  Ir Salahudin Wahid atau kerap disapa Gus Sholah saat menjadi pembicara dalam seminar wawasan kebangsaan dengan tema "Merajut Kebersamaan dan Kebhinekaan Dalam Penguatan Persatuan dan Kesatuan NKRI" yang digelar oleh Kesbangpol Provinsi Babel di Gedung Garaha Timah Pangkalpinang, Jumat (17/11/2017).

"Menipisnya toleransi, menipisnya rasa saling menghargai serta perbedaan jarak antara yang kaya dan miskin yang semakin melebar inilah yang menjadi masalah kita," ucap Gus Sholah.

Berdasarkan survey, lanjus Gus Sholah masalah terbesar yang  dihadapi Indonesia pertama adalah masalah Korupsi, kedua penegakan hukum, ketiga kemiskinan dan keempat sara.

" Masalah utama adalah korupsi dan penegakan hukum. Kalau SARA itu nomor empat, tetapi jangan dianggap tidak penting, penting juga. Bagaimana kita menyadarkan masyarakat, seperti soal politisasi agama ini harus disamakan dulu persepsinya duduk bersama, jangan sampai tidak sepakat ribut lagi, seperti pemilihan gubernur di Jakarta beberapa waktu lalu ini, jadi pelajaran. Kita harus cegah jangan sampai terjadi lagi terutama pemilihan presiden 2019 nanti biayanya sangat besar terutama biaya sosialnya," paparnya.

Kejadian yang sekarang terjadi dengan pergolakan masalah toleransi belakangan ini, menurut Gus Sholah menandakan rasa kebangsaan kita belumlah kuat.

Padahal toleransi sangatlah penting dengan keragaman di Indonesia dimana toleransi itu berupa menghargai pendapat, menghormati dan tenggang rasa, dan memberikan hak hidup yang sama.

" Rumus toleransi itu, sederhana. Jangan melakukan sesuatu tindakan kepada orang lain yang kita tidak mau tindakan itu terjadi kepada kita, contohnya apabila tidak mau diejek, maka jangan mengejek. Serta tidak mengurangi hak orang lain," ungkapnya.

Saat disingung apakah seminar wawasan kebangsaan yang gencar dilakukan belakangan ini, terkesan terlambat lantaran imbas dari pilkada di Jakarta. Menurut Gus Sholah hal itu tidak ada kata terlambat.

 Sebab kesadaran kebangsaan itu turun naik. Hanya saja kejadian pilkada di Jakarta seharusnya dapat diambil hikmahnya dan pelajaran agar lebih dapat menumbuhkan rasa kebangsaan.

" Sekarang ini, sudah dibentuk Unit Kerja Kepresidenan, jadi kita tunggu saja apa nanti hasilnya. Saya setuju sekarang ini, masih kurangnya keteladanan. Maka perlu contoh agar mengikuti keteladanan para pemimpin. Terus membumikan pancasila dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.

Pada kesempatan itu, Gus Sholah juga berpesan agar masyarakat maupun anak muda tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang belum tentu kebenarannya.

Selain Gus Sholah, dalam seminar wawasan kebangsaan itu juga hadir pembicara lainnya, Ketua umum badan musywarah antar gereja lembaga keagamaan kristen indonesia, Agus Susanto, Ketua MUI Zayadi Hamzah.

Hadir dalam kegiatan tersebut, ratusan peserta terdiri dari ormas, mahasiswa, siswa dan sejumlah organisasi kepemudaan di Bangka Belitung, dan tamu undangan.(*)

Penulis: zulkodri
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help