Siloam Gelar Seminar Neurosugery in Indonesia

Beroperasi Juli 2017 lalu, Rumah Sakit Siloam Bangka selalu berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Siloam Gelar Seminar Neurosugery in Indonesia
bangkapos.com/Idandi Meika Jovanka
Direktur Siloam Hospital Bangka, dr. Eusebiusyuvens C Waruwu 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Beroperasi Juli 2017 lalu, Rumah Sakit Siloam Bangka selalu berupaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Mereka mengadakan sejumlah seminar kesehatan, radio talkshow, dan artikel kesehatan. Satu diantaranya, bekerjasama dengan Team Bedah Syaraf (TBS) Siloam Hopitals Group mengadakan  seminar bertema Neurosugery in Indonesia.

Direktur Siloam Hospital Bangka, dr. Eusebiusyuvens C  Waruwu mengatakan moto Care and Compassion for the Nation membuat siloam selalu aktif menggelar kegiatan seminar kesehatan guna mendukung terciptanya kesehatan masyarakat Bangka yang lebih baik. Sebab lebih baik mencegah daripada mengobati sehingga masyarakat harus lebih waspada mendeteksi tanda-tanda penyakit sebelum terlambat, Sabtu (18/11).

Seminar tersebut ditujukan kepada dokter dan tenaga medis lainnya guna meningkatkan pengetahuan terutama tentang bedah syaraf. TBS Siloam Hopitals Group dipimpin Prof. Eka J. Wahjoepramono, M.D, Ph.D telah banyak mengadakan seminar di Indonesia maupun manca negara. Tim tersebut mempunyai 20 anggota, satu diantaranya dokter spesialis tetap di RS Siloam Bangka yaitu dr. Wiradharma Arief, SpBS.

Ia menyebutkan dr. Wiradharma Arief, SpBS bergabung di RS Siloam Bangka sejak awal beroperasi. Selain didukung TBS, dilengkapi pula teknologi canggih CT Scan 128 membantu mendiagnosa pasien. Tidak hanya itu, jika diperlukan penanganan operasi juga di fasilitasi C-Arm atau alat penunjang dokter melakukan operasi lebih akurat.

TBS Siloam Hopitals Group terdiri 8 orang di Bangka dan ditemani Dr. M. Zafrullah Arifin, dr., SpBS(K) dari RS. Hasan Sadikin Bandung. Ia merupakan konsultan bedah syaraf dan kepala bagian bedah syaraf Universitas Padjajaran.

Menurutnya resiko cacat atau meninggal akibat Stroke harus dihindari sebab mengobati lebih sulit dibandingkan mencegah. Di Bangka paling banyak terjangkit Hipertensi, meskipun sederhana karena bisa melalui minum obat rutin setiap hari diharapkan bisa terkontrol. Jika, dibiarkan dapat merembet ke otak dan jantung dan bisa terjadi kapan saja.

Ia menjelaskan Hipertensi ada dua, yaitu dikarenakan bawaan diri sendiri dan faktor luar seperti makanan dan gaya hidup. Ia berencana melengkapi perlengkapan beda syaraf secara bertahap. 2 sampai 3 tahun kedepan perlengkapan MRI dan Labnya terpenuhi. Sehingga, 5 tahun lagi bisa terlengkapi semua.

Ia menyebutkan operasi bedah syaraf bulan lalu, sudah dilakukan 2 kali karena kecelakaan dan perlu dioperasi buat buat mengeluarkan darah di kepala. Tindakan tersebut harus dilakukan cepat karena bisa menyebabkan cacat. Ia berharap seminar tersebut tenaga medis di Bangka dapat lebih memperdalam pengetahuan medis mengenai bedah syaraf sehingga tidak hal sulit ditangani.

Penulis: Idandi Meika Jovanka
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help