Begini Muhammad Sopian Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi merupakan ajang introveksi diri guna menjadi pribadi lebih baik dalam melangkah kedepan. Sesuai sabda rasul dan firman Allah SWT

Begini Muhammad Sopian Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW
bangkapos/idandimeikajovanka
Wakil Walikota Pangkalpinang, Muhammad Sopian saat pembukaan perlombaan Berzanji, Azan, dan Tilawah, Sabtu (25/11). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Wakil Walikota Pangkalpinang, Muhammad Sopian memaknai maulid nabi secara lahir dan batin.

Ia menjelaskan secara lahir berkaitan syiar agama.

Lalu, batin mengharuskan insan mendalami diri sejauh mana mampu mengaplikasikan akhlak yang dimiliki nabi, baik sabda maupun firman-firman-Nya.

“Maulid Nabi merupakan ajang introveksi diri guna menjadi pribadi lebih baik dalam melangkah kedepan. Sesuai sabda rasul dan firman Allah SWT,” kata Sopian

Saat ditemui pada pembukaan perlombaan Berzanji, Azan, dan Tilawah, Sopian menyebutkan upaya Pemerintah Kota Pangkalpinang melestarikan budaya religus sudah mulai dirintis.

Menghidupkan sejumlah syiar islam melalui berbagai kegiatan, seperti perayaan Maulid Nabi dan 1 Muharram. Kedua hari besar tersebut telah menjadi agenda pokok, Sabtu (26/11)

“Kedua kegiatan tersebut diharapkan dapat memantik sejumlah kegiatan religus lainnya di lingkup masyrakat. Ibaratnya, sebah pancingan guna menumbuhkan kebiasaan religus merayakan hari besar Islam,” ujar Sopian      

Berbicara perihal pemanfaatan teknologi dan internet terhadap peningkatan akhlak generasi muda di Pangkalpinang.

Sopian menggambarkan saat ini tidak bisa menghindari perkembangan teknologi dan informasi. Kemajuan tersebut tentu memiliki dua dampak yang berbeda, yaitu positif dan negatif.

Menyikapi hal tersebut, Sopian menghimbau pengguna teknologi dan internet harus bijak. Terutama, bagi anak-anak fungsi pengawasan orangtua harus lebih dioptimalkan lagi.

Guna memantau prilaku dan pola tindak anak terhadap kemajuan teknologi tersebut.

Menurutnya, orang dewasa harus lebih sikap dan bijak saat mengawasi tindak laku anak seperti itu. Lebih mengarahkan dan menjelaskan fungsi dan pemanfaatan internet ke hal positif.

Sebab, penyalahan fungsi bisa mempengaruhi mental dan pola pikir anak sehingga perlu adanya penyeimbangan usia, pendidikan, maupun tingkat keimanan.

“Dulu orang-orang harus belajar dengan guru tapi kini bisa belajar lebih mandiri menggunakan internet atau google. Ketika keingintahuan anak terhadap sesuatu terkadang tidak sesuai kebutuhannya, seperti siswa SD mencari informasi terkait pornografi. Sehingga perlu peran orang dewasa buat mengarahkan pemanfaat internet supaya bisa meningkatkan akhlak mereka,” jelas Sopian.(*)

Penulis: Idandi Meika Jovanka
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved