Pemkab Bangka Diminta Tetapkan Mangrove Hakok Jadi Zona Mangrove

Kecamatan Sungailiat memiliki potensi kawasan magrove namun menjadi persoalan

Pemkab Bangka Diminta Tetapkan Mangrove Hakok Jadi Zona Mangrove
bangkapos.com/Nurhayati
Sekda Bangka H Fery Insani saat menanam bibit bakau bersama Ketua Yayasan Simpul Babel Ujang Suprianto dan Ketua Umum SMAN 1 Sungailiat Angkatan 87 Khairudin, Minggu (26/11/2017) pagi di Kawasan Magrove Hakok.

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA --Kecamatan Sungailiat memiliki potensi kawasan magrove
namun menjadi persoalan karena banyaknya penambangan ilegal sehingga menjadi pemicu konflik sosial.

Untuk itu Sekepuk 87 Go Green yang dilakukan Alumni SMAN 1 Sungailiat Angkatan 87 berusaha merubah mindset berpikir masyarakat secara berlahan agar tidak merusak magrove karena pemerintah tidak bisa hanya melarang tetapi mengajak masyarakat menjaganya.

"Apabila suatu kawasan kita jaga dengan baik kemungkinan-kemungkinan orang untuk melakukan kegiatan ilegal itu akan berkurang. Kita tidak bisa melepaskan begitu saja melarang menambang namanya juga masyarakat jadi kita harus antisipasi dengan melakukan penanaman mangrove. Jadi kita memberi stimulus atau perangsang kepada masyarakat untuk menjaga kawasan mangrove agar tetap lestari," jelas Inisiator Sekepuk 87 Go Green Alumni SMAN 1 Sungailiat Angkatan 87, Rudiansyah, Minggu (26/11/2017) usai penanaman bibit magrove di Mangrove Hakok.

Untuk itu pihaknya akan bekerja dengan pihak lain seperti Yayasan Simpul Babel untuk mengembangkan kawasan Mangrove Hakok menjadi kawasan pariwisata dengan membuat jembatan dan track dengan tidak membebankan kepada APBD Pemkab Bangka.

Pihaknya meminta Pemkab Bangka bisa merekomendasikan kepada mereka untuk melaksanakan aktivitas membangun kawasan mangrove kini menjadi kawasan pariwisata.

Pemerintah daerah juga bisa menetapkan kawasan ini menjadi kawasan zona mangrove sebagai awasan konservasi mangrove khusus. "Jadi tidak boleh orang melakukan kepemilikan pribadi hanya izin pengelolaan yang nanti kami akan melibatkan seluruh masyarakat sekitar mangrove seperti Hakok, Jalan Laut dan Kuala termasuk Kampung Pasir," kata Rudiansyah.

Diakuinya, perlu payung hukum dalam hal ini mereka berharap Bupati Bangkamembantu Yayasan Simpul Babel dan Alumni SMAN Angkatan 87 menjadikan zona mangrove.

"Kami akan menjadikan wilayah mangrove ini yang terbaik dan terbesar," kata Rudiansyah.

Dikatakan bahwa kawasan Mangrove Hakok ini merupakan kawasan Areal Penggunaan Lain (APL) makanya sebelum dikapling oleh kelompok-kelompok tertentu pihaknya akan mengamankan kawasan mangrove tersebut.

Untuk itu pihaknya mengimbau tidak ada aktivitas lagi kegiatan yang sifatnya merusak atau penguasaan lahan.

"Ini merupakan ini aset pemerintah, aset negara yang semata-mata untuk kepentingan masyarakat. Mengapa menjadi kawasan zona mangrove karena untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat bisa menikmati semua potensi yang ada seperti budidaya kepiting,wisata wahana perahu karena ini bisa tembus dari Muara Kuala tembus ke Nelayan I," harap Rudiansyah.

Selain itu menurutnya, para nelayan juga meminta agar dibuat tambatan perahu nelayan agar memudahkan menjual hasil tangkapan ikannya dan tidak jauh dari lokasi tempat tinggal mereka.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved