BangkaPos/
Home »

Bisnis

» Makro

Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel

Beginilah sebagian kisah antara peritel yang menolak terlibas era disrupsi dan pembeli yang kehilangan toko kesayangannya

Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel
(Andrew Seng untuk The New York Times )
Sebuah toserba Sears di Paramus, Amerika Serikat, yang segera tutup. 

BANGKAPOS.COM--Perubahan zaman membuat disrupsi dalam berbagai sendi kehidupan manusia. Tak terkecuali, dalam hal berbelanja.

Secara global, termasuk Indonesia, kelesuan ritel konvesional terus memakan korban. Satu per satu peritel mesti merelakan gerainya gulung tikar.

Sejatinya, bukan hanya peritel yang bersedih atas kondisi itu, tetapi juga dialami oleh para penggemar sensasi berbelanja di toko. Merekalah kaum urban yang masih menikmati pesona memilah barang secara langsung dan konkret.

Baca: Tsania Marwa Tulis Surat Terbuka untuk Vonny, Netizen Ingatkan Dosa Jauhkan Anak dari Ibunya

Beginilah sebagian kisah antara peritel yang menolak terlibas era disrupsi dan pembeli yang kehilangan toko kesayangannya. Menelisik cerita di balik tutupnya toserba Sears di Amerika Serikat.

Alkisah, setiap tahun di kala Black Friday, Angela Buzatto selalu menyempatkan diri untuk datang ke toserba Sears, sebuah toko favoritnya sejak saban hari.

Ia senantiasa membeli dua mesin penyedot debu baru, dengan potongan harga ekstrem, untuk bisnis pembersihan rumah miliknya. Tahun ini, Angela berencana memborong empat buah mesin penyedot debu.

Namun, Angela tak dapat lebih bersedih dari hari itu. Sears di Phillipsburg Mall mulai mengobral seluruh barangnya, sebuah pertanda toko bakal berhenti beroperasi.

Selain membeli penyedot debu yang harganya super miring, ia juga membelikan putrinya yang berusia 8 tahun sebuah gaun putih berkilau seharga 24 dollar AS (sekitar Rp 320.000) dan sepasang sepatu biru seharga 10 dollar AS (sekitar Rp 135.000).

Ilustrasi ritelKikovic Ilustrasi ritel

"Ini sangat menyedihkan,” tutur Angela, yang telah berbelanja di Sears cabang perbatasan Pennsylvania itu selama 16 tahun, sebagaimana dilansir New York Times, Jumat (24/11/2017).

Halaman
1234
Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help