Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel

Beginilah sebagian kisah antara peritel yang menolak terlibas era disrupsi dan pembeli yang kehilangan toko kesayangannya

Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel
(Andrew Seng untuk The New York Times )
Sebuah toserba Sears di Paramus, Amerika Serikat, yang segera tutup. 

Penjualan liburan akhir tahun pun diproyeksikan meningkat sebanyak 4 persen dari tahun lalu, menjadi 682 miliar dollar AS, mengacu proyeksi Federasi Ritel Amerika Serikat.

Namun, hal positif itu baru hadir saat peritel tengah mengalami situasi rentan. Para peritel sedang mencoba beradaptasi dengan model bisnis baru, dari sebelumnya mengoperasikan ratusan toko di mal pinggiran kota menjadi lebih “zaman now”.

Menolak senja kala

Sebagai peritel legendaris, Sears berupaya bangkit dari situasi sulit. Meski penjualan turun dan harga saham menjadi murah meriah, di bawah 4 dollar AS (sekitar Rp 50.000), mereka tak ingin tinggal sejarah.

Juru bicara Sears mengatakan, toko-toko yang sedang proses penutupan seperti di Phillipsburg, bukanlah "representasi yang adil dari pengalaman belanja Sears saat ini”.

Ilustrasi ritelmoodboard Ilustrasi ritel

Bahkan, Sears mengklaim, pada saat bersamaan perusahaan juga membuka beberapa gerai baru dan merenovasi sejumlah toko menjadi lebih kecil dan menarik.

Perusahaan itu juga bekerja sama dengan Uber, yang mana pengemudi dapat diskon signifikan saat belanja di Sears.

"Kami bertempur habis-habisan," ungkap Chairman Sears Edward Lampert dalam sebuah pernyataan resmi awal tahun ini.

Sebagai upaya mengurangi beban operasional, penutupan toko adalah kebijakan pahit yang mesti dijalani Sears. Pada awal November ini, Sears telah mengumumkan bakal menutup toko di Phillipsburg.

Baca: Fredrich Yunadi Suka Yang Berbau Mewah, Sang Istri Tampil Bersahaja

Halaman
1234
Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved