Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel

Beginilah sebagian kisah antara peritel yang menolak terlibas era disrupsi dan pembeli yang kehilangan toko kesayangannya

Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel
(Andrew Seng untuk The New York Times )
Sebuah toserba Sears di Paramus, Amerika Serikat, yang segera tutup. 

Ketika toko itu dibuka pukul 7 pagi untuk Black Friday terakhir kalinya, tempat parkir di depan kosong. Hanya ada minivan dan truk pikap putih.

Spanduk merah dan kuning bertuliskan "Store Closing Sale" dan "Nothing Held Back" tergantung di langit-langit toko.

Toko ritel SearsCNN Toko ritel Sears

Di dalam toko, meja etalase berisikan kemeja, celana, dan sweater yang tersusun rapi. Sebuah kemeja bertema patriotik yang menampilkan serigala dan elang didiskon 40 persen. Syal yang awalnya dijual 5,99 dollar AS, dipangkas menjadi sekitar 3 dollar AS.

Syahdan, syal itu menarik perhatian Elaine Freeman, yang tengah mencari hadiah Natal bersama adiknya.

Kakak beradik itu tumbuh kembang bersama Sears. Karena itu, mereka ingin menunjukkan kesetiaan mereka dengan berbelanja di Sears untuk Black Friday terakhir.

Memilih setia

Freeman mengatakan, ia rutin membeli barang-barang di Sears yang tak dapat ditemukan di peritel lainnya. Baru minggu ini, kata dia, keponakannya membutuhkan pemanggang yang cukup besar untuk kalkun, sebagai persiapan untuk perayaan Thanksgiving.

"Ini Black Friday, orang-orang berbelanja di tempat lain, tetapi kami memilih untuk berada di sini," cetus Freeman.

Sekitar pukul 07.45 waktu setempat, Tyler Kwiecinski dan Zoe Vallese, berjalan ke toko Sears dan menuju ke bagian peralatan dapur.

Kedua pemuda tersebut mengaku jarang mengunjungi Sears. Akan tetapi, saat mereka tengah mengunjungi toko video gim, mereka tergoda dengan tanda “Store Closing” kuning besar yang terpajang di luar Sears.

"Ayah saya pernah mengatakan bahwa Sears seperti Walmart, sebelum Walmart tumbuh besar,'' kata Kwiecinski, yang pada akhirnya meninggalkan toko tanpa membeli apapun.

Ilustrasi ritelwutwhanfoto Ilustrasi ritel

Tidak jauh dari rak peralatan dapur itu, berdiri pohon Natal yang didiskon 30 persen.

Pengunjung lainnya, Nancy Hartman, mengaku telah rutin berbelanja di Sears saat Black Friday. Pada hari itu, Hartman mengintip ke satu sudut etalase kosong dan gelap di sudut toko Sears.

"Saya membawa cucu saya ke mal ini baru-baru ini dan dia bertanya kepada saya mengapa toko itu tutup?” kenang Hartman.

"Ini menyedihkan,” sambung dia.

Sekitar 65 mil dari Phillipsburg Mall, Sears di kawasan Wayne justru menampilkan wajah berbeda. Toko itu memiliki rak etalase baru dan lampu gemerlap. Eksteriornya pun dicat segar bercorak putih dan biru.

Di sana, Victoria Setzer tengah berbelanja pakaian anak laki-laki saat Black Friday. Orang tuanya bertemu pertama kali di Sears pada medio 1960-an, tatkala ibunya bekerja di sana.

"Ada begitu banyak sejarah dan tradisi, ini adalah bagian dari Americana," katanya.

"Saya harap ini bertahan. Namun, saya tidak tahu apakah mereka bisa melakukannya,” tuntas Setzer.

//
 

Ketika toko itu dibuka pukul 7 pagi untuk Black Friday terakhir kalinya, tempat parkir di depan kosong. Hanya ada minivan dan truk pikap putih.

Spanduk merah dan kuning bertuliskan "Store Closing Sale" dan "Nothing Held Back" tergantung di langit-langit toko.

Toko ritel SearsCNN Toko ritel Sears

Di dalam toko, meja etalase berisikan kemeja, celana, dan sweater yang tersusun rapi. Sebuah kemeja bertema patriotik yang menampilkan serigala dan elang didiskon 40 persen. Syal yang awalnya dijual 5,99 dollar AS, dipangkas menjadi sekitar 3 dollar AS.

Syahdan, syal itu menarik perhatian Elaine Freeman, yang tengah mencari hadiah Natal bersama adiknya.

Kakak beradik itu tumbuh kembang bersama Sears. Karena itu, mereka ingin menunjukkan kesetiaan mereka dengan berbelanja di Sears untuk Black Friday terakhir.

Memilih setia

Freeman mengatakan, ia rutin membeli barang-barang di Sears yang tak dapat ditemukan di peritel lainnya. Baru minggu ini, kata dia, keponakannya membutuhkan pemanggang yang cukup besar untuk kalkun, sebagai persiapan untuk perayaan Thanksgiving.

"Ini Black Friday, orang-orang berbelanja di tempat lain, tetapi kami memilih untuk berada di sini," cetus Freeman.

Sekitar pukul 07.45 waktu setempat, Tyler Kwiecinski dan Zoe Vallese, berjalan ke toko Sears dan menuju ke bagian peralatan dapur.

Kedua pemuda tersebut mengaku jarang mengunjungi Sears. Akan tetapi, saat mereka tengah mengunjungi toko video gim, mereka tergoda dengan tanda “Store Closing” kuning besar yang terpajang di luar Sears.

Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved