BangkaPos/
Home »

Lokal

» Bangka

Waspada Anak Usia SD Alami Kekurangan Gizi Kronis Sebesar 15,1 Persen

masalah kesehatan dan gizi anak masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah.

Waspada Anak Usia SD Alami Kekurangan Gizi Kronis Sebesar 15,1 Persen
bangkapos.com/Nurhayati
Pencanangan Gerakan Fit For School (GF2S) oleh Dinas Kesehatan Babel, Senin (27/11/2017) di Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) 1 Sungailiat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2010 dan tahun 2013 menunjukan bahwa masalah kesehatan dan gizi anak masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah.

Pada anak usia sekolah didapat masalah gizi dan kesehatan anak sekolah yakni kurang gizi kronis (stunting) sebesar 15,1 persen pada usia enam hingga 12 tahun, sangat pendek sebesar 20 persen usia enam hingga 12 tahun, menderita anemia sebesar 26,4 persen pada usia 5 hingga 14 tahun dan sebesar 18,4 persen pada usia 15 hingga 24 tahun serta mengalami obesitas sebesar 15,4 persen pada usia 15 hingga 24 tahun.

Masalah gizi dan kesehatan anak diusia sekolah ini disampailan Kepala Dinas Kesehatan Babel drg Mulyono Susanto melalui Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat Hermain saat pencanangan Gerakan Fit For School (GF2S) oleh Dinas Kesehatan Babel, Senin (27/11/2017) di Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) 1 Sungailiat.

"Kondisi ini disebabkan masalah prilaku makan anak. Sebesar 44,6 persen sarapan dengan mutu rendah atau sekedar sarapan harusnya orang tua tidak mengikuti keinginan anak. Anak lebih senang jajan, di sekolah harusnya ada kantin sehat," kata Hermain.

Selain itu anak yang kurangnya konsumsi buah dan sayur sebanyak 93,6 persen, frekuensi makan mie instan tiga hingga enam kali perminggu sebesar 34,5 persen, konsumsi makan berisiko terhadap kesehatan berpenyedap sebesar 75,7 persen, makanan manis sebanyak 63,1 persen dan makanan asin sebanyak 24,4 persen.

Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan lingkungan sekolah diantaranya meliputi kecacingan pada siswa SD sebesar 18,7 persen, PHBS rendah (prilaku cuci tangan dengan sabun yang benar) sebesar 17,2 persen, kasus kejadian luar biasa keracunan makanan di sekolah pada tahun 2015 sebanyak 2.959 kasus, kurangnya kesediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar di sekolah, resiko keberadaan vektor penyakit di sekolah, hingga pengunaan bahan tonic dan berbahaya di sekolah dimana hasil pengawasan rutin BPOM tahun 2008 hingga 2010 sebesar 40 hingga 44 persen jajanan anak sekolah tidak memenuhi persyaratan.

"Mengingat kompleksnya permasalahan kesehatan yang dialami oleh anak-anak kita di usia sekolah tersebut maka perlu berbuat sesuatu yang dapat di terapkan di sekolah untuk mengintervensi masalah kesehatan tersebut agar tidak menjadi faktor penghambat anak didik kita dalam proses belajar," kata Hermain

Untuk itulah menurutnya perlu dicanangkan Gerakan Fit For School dengan keterlibatan semua pihak dalam mewujudkan gerakan masyarakat sehat. Anak-anak perlu diberikan pemahaman baik tentang kesehatan, gerakan Fit For School agar prilaku hidup sehat dan budaya hidup sehat bisa ditularkan ke keluarga," harap Hermain.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help