Hak Jawab Deddy Yulianto Membantah Tuduhan Secarpiandy

Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Deddy Yulianto membantah sejumlah hal terkait tuduhan

Hak Jawab Deddy Yulianto Membantah Tuduhan Secarpiandy
bangkapos/teddy malaka
Wakil ketua DPRD Bangka Belitung saat sedang browing berita bangkapos.com di ruang kerjanya. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti dan Teddy Malaka

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Deddy Yulianto membantah sejumlah hal terkait tuduhan yang dilayangkan Secarpiandy pada pemberitaan di bangka.tribunnews.com yang berjudul "Dituding Gelap Uang, Scarpiandy Lapor Balik Pimpinan Dewan ke Polda" yang terbit pada Selasa, 21 Februari 2017 Pukul 22:17 WIB.

Berdasarkan perkembangan sidang di Dewan Pers dan kesepakatan dengan Wakil Ketua DPRD Bangka Belitung Deddy Yulianto, Bangka Pos melalui portal berita bangka.tribunnews.com memuat hak jawab.

Pada pertemuan dengan Deddy Yulianto di ruang Wakil Ketua DPRD Bangka Belitung, Selasa (28/11/2017), Deddy mengungkapkan jika informasi yang disampaikan Secarpiandy perlu ia bantah.

Deddy membantah pernyataan Secarpiany yang menyatakan pelaporan penggelapan uang Rp 50 juta dianggap sebagai tipu muslihat untuk menutupi kecurangan. Dalam berita yang dipersoalkan, Secarpiany mengungkap uang Rp 50 juta ia tahan karena Deddy Yulianto belum membayar biaya operasional untuk dua perkara yang ditanganinya sebagai hak retensi advokat.

Deddy menepis keterangan Secarpiandy dengan menerangkan bahwa dirinya melakukan perjanjian akan membayar jasa hukum mantan pengacaranya itu usai kasus tuntas. "Gawe lom sude (Kerja belum selesai), urusan fee tergantung kesepakatan kami setelah pekerjaan selesai, Rp 25 juta untuk dia dan Rp.100 juta untuk ku,"tegas Deddy.

Diceritakan Deddy ia memiliki saksi penandatangan surat kuasa atas dirinya. Kala itu Deddy menandatangani surat kuasa dengan pembagian Rp 25 juta diserahkan kepada Secarpiandy sebagai uang jasa fee sementara Rp 100 juta dikembalikan kepada dirinya.

Pada 5 Desember 2015, dirinya memiliki kesepakatan dengan mantan pengacaranya itu untuk menagih hutang kepada Imran. Namun karena kesibukan, Deddy mengatakan berselang satu bulan dirinya menghubungi Secarpiandy untuk mengetahui perkembangan proses penagihan hutangnya.

"Dia bilang sudah ketemu pihak yang punya utang, tapi minta waktu empat bulan baru sanggup bayar. Oke, karena sudah aku beri kuasa, empat bulan kemudian aku telepon nggak diangkat. SMS ngggak dibalas, dijawab "maaf sapa ni?"," kenang Deddy Yulianto.

Beberapa waktu kemudian, Deddy mendapati kwitansi pembayaran tertanggal 7 Desember 2015, yakni dua hari berselang saat Deddy bersepakat dengan Secarpiandy untuk mengambil uangnya pada Imran. (*) 

Baca: Chandra Merpaung: Advokat Dituntut Harus Profesional, Bukan Senior dan Junior

Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved