Ribuan Komestik dan Obat Tradisional Ilegal Disita BPOM Babel

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Babel menyita kosmetik dan obat tradisional berbahaya senilai Rp 88 juta atau sebanyak 4.915 pacs.

Ribuan Komestik dan Obat Tradisional Ilegal Disita BPOM Babel
Bangka Pos/Krisyanidayati
Kepala BPOM Babel Rossy Hertati menunjukkan sampel kosmetik dan obat tradisional ilegal dari penertiban pasar, Kamis (30/11/2017). Bangka Pos/Krisyanidayati 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pangkalpinang menyita kosmetik dan obat tradisional berbahaya senilai Rp 88 juta atau sebanyak 4.915 pacs.

Penyitaan Bahan Komestik dan obat tradisional berbahaya ini merupakan aksi penertiban pasar yang dilaksanakan di Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka Barat dan Belitung 14-17 November lalu.

Kepala BPOM, Rossy Hertati mengatakan penyitaan ini merupakan aksi penertiban pasar dari kosmetika dan obat tradisional ilegal atau mengandung bahan kimia berbahaya dan bahan kimia obat.

Pihaknya memeriksa 14 sarana di tiga daerah itu, namun hanya 10 sarana yang ditemukan kosmetik dan obat tradisional ilegal.

"Barang-barangya sudah kami sita nantinya akan dimusnahkan. Insentifikasi pemeriksaan sarana ini sangat perlu karena masih tingginya temuan sarana yang memproduksi maupun mengedarkan kosmetik dan obat tradisional ilegal.
Ini memang belum optimal untuk melindungi terpaparnya masyarakat dari penggunaan kosmetika dan obat tradisional makanya harus ada insentifikasi," kata Rossy dalam Konferensi Pers, Kamis (30/11/2017).

Aksi penertiban pasar ini, merupakan tahap kedua, setelah tahap pertama dilakukan pada Februari lalu.

Rossy mengatakan umumnya barang yang disita tidak memiliki izin edar dan mengandung bahan kimia berbahaya.

"Kita lihat dari kemasannya saja itu sudah tidak punya izin edar. Ada yang sama sekali tidak ada keterangan, atau tidak mencantumkan yang seharusnya ada di kemasan. Bahkan beberapa brand terkenal yang ditiru dan itu ilegal," jelasnya.

Rossy meminta masyarakat cerdas sebelum membeli produk, pasalnya ada beberapa barang dengan brand ternama yang ikut diduplikasi tapi dengan menggunakan komposisi yang berbeda.

Dirinya sangat berharap jika masyarakat dapat jeli sebelum membeli sehingga tidak membahayakan kesehatan.

"Ada brand resmi yang ditiru, tidak ada izin edarnya, keterangannya pakai bahasa asing, produksinya juga berbeda. Masyarakat harus betul-betul hati-hati untuk cek kemasan, label, izin edar dan kadaluarsa," tambah Rossy.(*)

Penulis: krisyanidayati
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved