Tak Mudah Bagi Pertiba Berubah Jadi Universitas, Ini Alasannya

Itu peraturan baru, jadi pemerintah memberikan kesempatan agar namanya berubah menjadi Universitas. Jurusan kita

Tak Mudah Bagi Pertiba Berubah Jadi Universitas, Ini Alasannya
Bangka Pos/ Ardhina Trisila Sakti
Ketua Yayasan Pertiba, Abdullah Mahdi 

Laporan wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Koordinator Kopertis Wilayah II, Slamet Widodo, Sabtu (9/12) di Hotel Novotel Bangka sempat menghimbau Yayasan Pertiba agar melakukan merger (penggabungan) berganti menjadi Universitas.

Himbauan ini disampaikan Slamet saat menjadi salah satu pembicara acara wisuda angkatan-27 sarjana dan magister STIE dan STIH Pertiba

Ketua Yayasan Pertiba, Abdullah Mahdi menanggapi baik himbauan ini.
Namun dirinya membeberkan beberapa kesulitan Pertiba menjadi universitas.

Berdasarkan persyaratan perguruan tinggi yang hendak berubah menjadi universitas harus memiliki 10 program studi.

Sementara kondisi saat ini Pertiba hanya memiliki dua program studi (ekonomi dan hukum). Tercatat jenjang S1 STIE dan STIH Pertiba meraih akreditas B sementara jenjang  S2 STIE dan STIH Pertiba terakreditasi C.

"Itu peraturan baru, jadi pemerintah memberikan kesempatan agar namanya berubah menjadi Universitas. Jurusan kita gak cukup, usahanya gak semudah itu," ujar Abdullah Mahdi saat dikonfirmasi Bangka Pos kemarin. 

Senada Ketua STIE Pertiba, Wargianto turut mengutarakan kesulitan berubah menjadi universitas terdapat pada SDM pengajar.

Saat ini tenaga pengajar dosen berasal dari dosen tetap Yayasan, dibantu kopertis melalui PNS dan instansi provinsi mengajar di STIE Pertiba.

"Saran dari koordinator kopertis pengabungan menjadi universitas itu prinsipnya baik ke depan. Tapi  syaratnya cukup berat dan perlu dikondisikan lagi karena tidak ada ketersediaan SDM itu intinya," jelas Wargianto 

Guna mempercepat status akreditasi yang lebih baik, Yayasan Pertiba kini menyekolahkan tenaga pengajarnya ke jenjang pascasarjana strata-3 (S3) ke luar daerah seperti Bandung, Jakarta bahkan luar negeri seperti Turki. 

"Beberapa tenaga ahli setara dengan magister agak sulit bila di tarik bekerja atau kembali ke Bangka Belitung. Doktor ilmu manajemen ekonomi masih kami sekolahkan dan paling cepat butuh waktu tiga tahunan," jelasnya. (*)

Penulis: Ardhina Trisila Sakti
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help