BangkaPos/

Lempah Kuning dan Martabak Kuliner Sejuta Umat yang Bikin Nagih

Kuliner lokal khas bumi Serumpun Sebalai yang kaya akan rempah-rempahnya ini, kerap membuat wisatawan lupa diri untuk kembali ke kampung halamannya

Lempah Kuning dan Martabak Kuliner Sejuta Umat yang Bikin Nagih
istimewa
Chef Desi, juri lomba Bangka Belitung Food Festival mencicipi masakan lempah kuning peserta BBFF 2017 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM--"Udah setahun lalu sih ke Bangka, tapi enaknya lempah kuning ayam pake daun kedondong, asem pedesnya masih terngiang-ngiang di lidah, berasa pengen balik lagi," tutur Nada wisatawan asal Bekasi, Jawa Barat belum lama ini.

Kuliner lokal khas bumi Serumpun Sebalai yang kaya akan rempah-rempahnya ini, kerap membuat wisatawan lupa diri untuk kembali ke kampung halamannya.

Lempah kuning
Lempah kuning (ist)

Aroma lempah kuning yang berasal dari racikan bumbu bawang, cabai, terasi Bangka, asam jawa, kunyit, laos pastilah memancing selera makan. Sajian lempah kuning tidak hanya menggunakan ikan, tetapi juga ayam, daging, iga, bahkan udang.

Rasa asam dan pedas memang lebih dominan dalam lempah kuning, berkat kreativitas masyarakatnya rasa asam pada lempah kuning tidak hanya diperoleh dari asam Jawa, tapi berasal dari bahan tambahan seperti nanas, daun kedondong, terong asem, belimbing wuluh, campuran inilah yang memberikan kesan yang berbeda bagi penikmatnya.

Perpaduan racikan bumbu dan bahan segar inilah yang membuat lempah kuning menjadi makanan yang serasi dan mudah diterima dilidah penikmatnya. Tak jarang mereka yang baru mencicipi ini menjadi ketagihan untuk mengulang lezatnya lempah kuning.

Chef Desi, juri lomba Bangka Belitung Food Festival mencicipi masakan lempah kuning peserta
Chef Desi, juri lomba Bangka Belitung Food Festival mencicipi masakan lempah kuning peserta (istimewa)

Bagi sebagain wisatawan yang baru mencicipi lempah kuning ini terasa janggal, tetapi setelah mencicipinya membuat mereka enggan untuk meninggalkan satu tetes saja kuah lempah kuning di mangkuk yang dihidangkan.

"Awalnya ragu buat makan karena belum pernah makan daun kedondong, pas udah nyoba malah nagih sampe diledikin pakai bahasa Bangka irup kuah raa, enggak paham maksudnya apa, apa karena kalap kali ya sampe kuahnya semangkok ludes," cerita wanita 24 tahun ini.

Baginya mencicipi lempah kuning adalah kewajiban bagi wisatawan yang datang ke Babel. Tak sah rasanya bila hanya menikmati keindahan alamnya tanpa menggoyang lidah dengan sajian ini.

Lain orang, lain pula kesannya dengan makanan satu ini. Dista wisatawan asal Jakarta yang kerap berkunjung ke Babel lantaran urusan pekerjaan, setiap kali ke Babel tak pernah melewatkan menikmati sajian ini, bahkan secara khusus dirinya meminta orang tua rekannya untuk membuat lempah kuning.

Halaman
1234
Penulis: krisyanidayati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help