Kisah Wandasona Sang Seniman, Rela Naik Ketek Demi Mengajar Para Pelajar Di SMPN 1 Parit Tiga

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan ini tak menyurutkan semangatnya untuk mengajar di SMPN 1 Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat

Kisah Wandasona Sang Seniman, Rela Naik Ketek Demi Mengajar Para Pelajar Di SMPN 1 Parit Tiga
ist
Perjalanan Wandasona, Seniman Musik, Tari dan Budayawan asal Kabupaten Bangka saat naik ketek mengajar ke SMPN 1 Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Mengendarai sepeda motor dari Sungailiat ke Belinyu dengan jarak tempuh 56,7 kilometer selama 45 menit, kemudian dilanjutkan dengan naik ketek atau kapal kecil menyeberang dari Mantung Belinyu ke Desa Bakit selama 15 menit.

Berikutnya dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Bakit ke Kapit selama 15 menit menjadi tantangan tersendiri bagi Wandasona Al-hamd, seniman musik, tari dan budayawan asal Kabupaten Bangka ini.

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan ini tak menyurutkan semangatnya untuk mengajar di SMPN 1 Parit Tiga Kabupaten Bangka Barat.

Dia lebih memilih mengajar sekolah yang jauh di Desa Kapit Parit Tiga setiap dua minggu sekali sejak Oktober hingga Desember 2017, agar para siswa/siswi di sekolah tersebut bisa belajar dan berprestasi di bidang seni dan budaya.

Dedikasi ini dilakukan Wanda demi mewujudkan Gerakan Seniman Masuk Sekolah yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Republik Indonesia.

"Motivasi saya sangat kuat, saya mau berbagi ilmu dengan mereka dan yang paling penting lagi saya sekaligus dapat belajar dari siswa-siswa saya di SMPN 1 Parit Tiga," ungkap Pemimpin Sanggar Lawang Budaya ini kepada bangkapos.com, Kamis (14/12/2017).

Bagi Wanda yang juga seorang reporter RRI Sungailiat ini, melihat semangat membara para pelajar disana untuk berlatih menari, musik dan mengenal budaya daerah ini menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya dan membuatnya terpacu untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak didiknya.

"Di tengah keterbatasan informasi budaya, keterbatasan wawasan budaya, keterbatasan kemampuan melihat menggali dan memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka dengan kehadiran saya mereka minimal tersadar bahwa di sekeliling mereka itu sangat potensial untuk dikembangkan dan menarik untuk di lestarikan, oh ternyata Kapit kita ini kaya ya, asyik ya kalau di kemas dalam kesenian, menarik ya," tutur Wanda.

Sejak duduk disekolah dasar Wanda yang darah seni mengalir dari ayahnya, sudah berkecimpung di dunia seni.

Halaman
12
Penulis: nurhayati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help