Bos Pupuk Ahap Dituntut Jaksa 7 Bulan Penjara

Selain itu terdakwa pun dikenakan sanksi denda sebesar Rp 5 juta serta subsider 3 bulan kurungan penjara

Bos Pupuk Ahap Dituntut Jaksa 7 Bulan Penjara
Bangkapos/Ryan Agusta
Terdakwa kasus pupuk, Ahap menutup wajahnya ketika hendak keluar dari gedung Pengadilan Negeri Pangkalpinang atau usai menghadiri sidang 

Laporan wartawan Bangka Pos Ryan A Prakasa

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Setelah beberapa kali menjalani proses persidangan di meja hijau gedung Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang, akhirnya pihak jaksa penuntut umum (JPU) asal Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel) menuntut bos pupuk, Guantoro alias Ahap (56) yakni sanksi pidana selama 7 (tujuh) bulan kurungan penjara.

Tuntutan terhadap bos pupuk itu (Ahap) dibacakan oleh seorang JPU asal Kejati Babel, Jayati SH di hadapan majelis hakim saat sidang yang digelar, Selasa (19/12/2017) sore di gedung PN Pangkalpinang.

"Selain itu terdakwa pun dikenakan sanksi denda sebesar Rp 5 juta serta subsider 3 bulan kurungan penjara," kata JPU ketika sidang saat itu dengan agenda sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa (Ahap).

Selanjutnya usai JPU membacakan tuntutan tersebut, majelis hakim yang diketuai oleh Sri Endang Ningsih SH MH dengan dua orang anggotanya seketika itu langsung melontarkan pertanyaan kepada terdakwa (Ahap).

"Atas tuntutan ini saudara (Ahap--red) berhak mengajukan pembelaan secara tertulis atau lisan, bagaimana?," tanya pimpinan majelis hakim di hadapan bos pupuk saat itu.

Spontan terdakwa (Ahap) mengatakan jika dirinya memilih pembelaan secara lisan saja dengan alasan Ahap mengaku masih mempertimbangkan nasib para karyawannya termasuk keluarganya.

"Saya minta pembelaan lisan saja yang mulia karena saya masih mau ngurus karyawan saya dulu termasuk keluarga saya," jawab Ahap di hadapan majelis hakim.

Seperti diketahui terkait perkara kasus pupuk tersebut hingga menyeret Ahap 
selaku pimpinan pihak PT Globusartha Internusa (GBI) kini menjadi terdakwa di meja hijau berawal dari pengungkapan yang dilakukan oleh pihak Polda kep Babel atau tim Satgas Ditreskrimsus terhadap penyimpanan 221,3 ton pupuk yang berjeniskan NPK merek Ayam asal Malaysia di 2 gudang.

Pengungkapan Pupuk itu diawali dari Gudang Pupuk pihak PT.Globusartha Internusa (GI) yang beralamatkan di Jalan Sungai Selan, Kabupaten Bangka Tengah, dan dari Gudang tersebut Tim Satgas berhasil mengamankan sebanyak 114,3 ton.

Sebelumnya tim Satgas Polda Babel pun sempat mengamankan barang bukti lainnya dengan merk pupuk yang sama (NPK) berjumlah 107 ton dalam udang tersebut (GI) yang beralamatkan di jalan Padat Karya, Kota Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung.

Selain itu terdakwa pun sempat dijerat sanksi pidana dengan pasal 60 ayat 1 huruf f dan UUD RI No.12 tahun 1992 tentang sistem budidaya Tanaman dengan ancaman denda Rp.250.000.000 juta rupiah.

Namun terkait perkara pupuk tersebut pihak Polda kep Babel pun menjerat sanksi pidana lainnya terhadap bos pupuk tersebut (Ahap) diantaranya dijerat dengan pasal 62 ayat 1 dan pasal 8 ayat 1 huruf a dan huruf e UUD RI No.8 tahun 1999 tentang perlindungan Konsumen dengan ancaman maksimal 5 tahun dan denda maksimal 2 miliar rupiah. (*)

Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved