Pokdakan Perpat Permai Coba Bangun Wisata “Rabeng” Mangrove Adopsi Kampung Kepiting Bali

Berbekal semangat gotong-royong Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Perpat Permai Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka

Pokdakan Perpat Permai Coba Bangun Wisata “Rabeng” Mangrove Adopsi Kampung Kepiting Bali
ist
Wisata "Rabeng" menyusuri kawasan hutan Mangrove seputaran Sungai Wak Buntu dan Sungai Pasir Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka menggunakan perahu dari drum plastik bekas buatan Pokdakan Perpat Permai Belinyu. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Berbekal semangat gotong-royong Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Perpat Permai Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung binaan Dinas Perikanan dan UPP Perikanan Budidaya dan LPPM UBB (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bangka Belitung) terus berbenah diri.

Pokdakan ini ingin memadukan usaha tambak kepiting bakau atau ketem remangok polikultur ikan bandeng dengan usaha kepariwisataan.

Ketua Pokdakan Perpat Permai, Sirpandi mengatakan kegiatan ini sebelumnya diawali dengan bantuan LPPM UBB melalui pengembangan perikanan budidaya sistem polikultur kepiting bakau dan ikan bandeng.

“Lokasi ini berdekatan dengan kegiatan pendalaman alur sungai untuk mengatasi banjir dan pendaratan kapal nelayan oleh Dinas PU Kabupaten Bangka di Sungai Wak Buntu,” kata Sirpandi, Senin (25/12/2017)).

Sementara itu Kabid Pengelolaan Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Bangka, Tri Rachmawati SPi MSi mengatakan keberadaan Kampung Kepiting di Tuban Bali yang sudah terkenal memberikan insiprasi bagi pokdakan ini untuk mengadopsi konsep wisata mangrove di Kelurahan Air Jukung Belinyu.

“Bukan sesuatu hal yang mustahil untuk dikembangkan dan dimulai saat ini terlebih ikut merasakan antuasiasnya anggota pokdakan ini. Progressnya menunjukkan perkembangan yang luar biasa dari masyarakat setempat.  Keberhasilan ini sangat ditentukan oleh mayarakat sebagai subjek pembangunan, sementara pemerintah daerah hanya sebagai fasilisatornya saja, atau konsep pembangunan bottom up,” jelas mantan Kepala BBI Sungailiat ini, Selasa (26/12/2017).

Diungkapkannya, mencermati manajemen Kampung Kepiting di Tuban Bali hingga membawa kesuksesan perlu diapresiasi, disana bukan dikelola oleh perusahaan tapi oleh kelompok nelayan bernama Wanasari yang berhasil menciptakan lapangan pekerjaan bagi keluarga nelayan.

“Para lelaki yang bekerja sebagai nelayan dan pembudidaya kepiting, para istri yang memasak di dapur untuk sajian restoran hingga anak-anak yang bermain alat musik dan pertunjukan seni di lokasi kampung kepiting yang tertata secara terpadu sudah berlangsung hingga generasi ke-4 sampai saat ini. Berbekal bantuan dana awal dari CSR Pertamina hingga usaha penanaman kembali tanaman mangrove di lokasi pariwisata tersebut membuat Kampung Kepiting Tuban Bali tetap eksis dan mendunia,” jelasnya.

Ditambahkannya, konsep tersebut jika dikembangan di Kelurahan Air Jukung Kecamatan Belinyu ini diharapkan akan memberdayakan ekonomi kerakyatan ke depannya.

“Ikon Pariwisata “Rabeng” (bahasa Belinyu untuk kawasan sungai, mangrove dan habitat hewan, red) menyusuri hutan mangrove sambil melihat lutung atau kera hitam dan hewan lainnya dengan perahu dari drum plastik bekas buatan pokdakan ini dan budidaya kepiting bakau polikultur ikan bandeng dapat menjadi sesuatu yang menarik untuk dikunjungi.” Ujarnya.

Diharapkan ke depan, kaum ibu pokdakan ini bisa membuka warung atau restoran dengan sajian kuliner khas kepiting bakau dan ikan-ikan sungainya. Sedangkan anak-anak yang berkunjung bisa bermain dan menangkap kepiting sedan (kepiting kecil salah capitnya membesar berwarna cerah, red) biasanya digunakan untuk kepiting balapan, dan belajar mentor atau menangkap kepiting bakau tentunya akan memberikan pengalaman hidup yang berkesan bagi anak-anak ini.

“Kita akui Pokdakan Perpat Permai  ini masih perlu dukungan dana dan perhatian OPD, CSR perusahaan,  serta lembaga pendidikan bagi pengembangan ke depannya.

Ditambahkannya pembuatan suvenir yang memanfaatkan bahan baku local khas mangrove dengan sajian minuman welcome drink dari buah perpat (bakau) hingga ketrampilan seni khas daerah perlu dilakukan.  

“Keterpaduan dan duduk bersama menjadikan kita bisa besar dan kuat untuk menghadapi persaingan global dan permasalahan di masa depan,” imbuhnya.(*)

Penulis: edwardi
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved