Kisah Jenderal Besar Sudirman 7 Bulan Tinggalkan Keluarga, 7 Bulan Berkumpul Lalu Pergi Selamanya

Di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terletak di Jalan Malioboro,didirikan patung Jenderal Sudirman.

Kisah Jenderal Besar Sudirman 7 Bulan Tinggalkan Keluarga, 7 Bulan Berkumpul Lalu Pergi Selamanya
Panglima Besar Jenderal Soedirman | Puspen TNI 

Keluarga Pak Dirman termasuk keluarga cukup besar. Puteranya tiga orang, dan puterinya empat: semua masih kecil ketika ayah mereka berpulang. Yang sulung, laki, dan kini bekerja di Yayasan Sudirman di Jakarta, waktu itu baru duduk di kelas lima Sekolah Dasar.

“Anak dapat membayangkan sendiri, bagaimana perasaan ibu pada waktu itu: seorang janda dengan tujuh orang anak, semuanya masih kecil. Untunglah, bahwa anak-anak dari Angkatan Perang selalu memberi bantuan kepada ibu, karena juga baru dua tahun kemudian ibu dapat menerima pensiun. Maklum, keadaan masih serba belum teratur . . . " Bu Dirman terdiam sejurus.

Teringat ia rupanya akan suasana sedih beberapa tahun yang telah silam. Kepindahan Bu Dirman dari rumah di Jalan Widoro, yang disediakan oleh Pemermtah bagi keluarga Jenderal Sudirman sesudah clash II, antara lain memang juga untuk mengurangi kenangan pahit itu.

“Baru saja kami ditinggalkan tujuh bulan lamanya, dan baru saja dapat berkumpul kembali kurang dari tujuh bulan kemudian sudah harus berpisah lagi untuk selama-lamanya."

Pak Dirman tidak wafat di rumahnya di Jalan Widoro, Yogya, melainkan di rumah peristirahatan Magelang.

“Ketika itu hari Minggu. Pak Dirman nampak seperti biasa; malahan bersenda-gurau dengan anak-anak. Hanya disela-sela itu terlontar kata-kata: 'Aku wis rila yen dipundut Sing Kagungan . . . . ! (Aku telah rela jika Tuhan memanggilku). Sesudah beberapa lama omong-omong  dan bersenda-gurau dengan bapanya, anak-anak mengajak ibu keluar sebentar jalan-jalan. Tetapi tidak lama kemudian ada susulan dari dokter Malyo supaya ibu masuk ke kamar Pak Dirman. Hari itu juga beliau wafat dengan tenang: 29 Januari 1950."

 Tokoh pemersatu

Dalam tahun itu genap 14 tahun Pak Dirman membangun keluarga, dan sebenarnya dapat memperingati genap lima tahun mendapat kedudukan Panglima Besar. Pak Dirman dipilih menjadi Panglima Besar pada tanggal 12 Nopember 1945.

Biarlah Pak Nas saja kami persilahkan menceriterakan pemilihan itu disini dengan kata-katanya yang bersahaja tanpa emosi; “Kemudian tanggal 12 November 1945 dilakukan pemilihan  Panglima Besar di Yogya oleh komandan-komandan TKR. Hanya karena keadaan, maka komandan-komandan yang hadlr kebanyakan adalah dari Jawa Tengah, karena Jawa Timur sedang bertempur, Jawa Barat sebagian besar tak dapat datang, apalagi komandan-komandan Sumatera.

Pemilihan ini menghasilkan pemilihan kolonel Sudirman, Panglima divisi V dari Banyumas. Hasil pemilihan ini disahkan oleh Kabinet Syahrir tanggal 18 Desember 1945.

Halaman
1234
Editor: zulkodri
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved