Kisah Anak Kota Putus Sekolah, Jaga Adik hingga Berjibaku di Tambang Timah, Ini Kata Pak RT

Sementara semangat menyala masih tampak dari wajah Revina (13). Warga di kelurahan yang sama dengan Erwin itu sangat berharap bisa sekolah lagi.

Kisah Anak Kota Putus Sekolah, Jaga Adik hingga Berjibaku di Tambang Timah, Ini Kata Pak RT
Bangka Pos/Alza Munzi
Revina (kanan) saat sedang mengasuh adiknya. 

"Kami ini dulu kebanyakan buruh pabrik bata. Tujuannya untuk bantu suami. Sekarang tidak kerja lagi karena faktor usia dan kesehatan. Itulah yang kami harapkan ada pemberdayaan perempuan. Sekarang ada yang terpaksa kerja melimbang timah," ujarnya.

Jumat (22/12/2017) sore, Ema membawakan kue pukis untuk tetangganya, Aminah. Pelan-pelan, Aminah mengunyah kue tersebut. Perempuan 82 tahun itu sejak hampir satu tahun ini cuma terbaring di atas kasur seadanya.

Bukan kain yang menyelimuti tubuh nenek renta ini. Tapi karpet plastik yang biasa dipakai untuk alas duduk.

Aminah tinggal seorang diri di sebuah bangunan berdinding batako tanpa plester. Ukurannya sekitar 2,5x3 meter.

Urusan makan dan sebagainya ada anak-anak dan cucu yang membantunya. Kebetulan rumah anak-anaknya bersebelahan dari perempuan itu tinggal.

Aminah tak berdaya. Penyakit stroke menyerang tubuhnya. Sekarang tidak ada sentuhan perawatan medis.

"Pampers seminggu butuh 2 pak, satu pak harganya Rp 50 ribu. Kalau musim hujan seperti ini banyak dipakai," ujar seorang menantunya.

Ema, tetangga Aminah prihatin melihat kondisi perempuan itu. Dia berharap pada usia senjanya, sang nenek mendapat perawatan yang memadai.

"Tapi kondisi yang membuat jadi seperti ini. Untuk sekadar makan saja susah. Sekitar 5 tahun lalu, nenek Aminah ini masih kerja cetak bata sama dengan saya," kata Ema.

Sebanyak20 anak 

Ketua RT 01 RW 01 kelurahan Air Mawar kecamatan Bukit Intan, Mulyono mengatakan ada sekitar 20 anak putus sekolah di RT yang dipimpinnya.

Angka putus sekolah ini umumnya didominasi oleh faktor ekonomi keluarga.

Selain itu faktor pergaulan, dan juga adanya pembiaran dari orangtua yang tidak memaksa anak untuk sekolah.

"Kalau RT 01 adal sekitar 20 anak yang putus sekolah. Ini ya karena dari kehidupan ekonomi orangtuanya dan mampu, kalau yang di BBIL perkampungan pemuda air mawar ada sekitar 54 KK yang paling banyak putus sekolah memang di situ, dan hampir semuanya penerima raskin," kata Mulyono belum lama ini.

Mulyono menambahkan selain faktor ekonomi, pergaulan terutama narkoba juga menjadi ancaman anak-anak usia sekolah ini.

"Faktor pergaulan kenakalan remaja cukup tinggi karena ikut-ikutan, narkoba ini yang kita ngeri entah itu pendatang atau penduduk asli, ini juga menjadi kekhawatiran kami, waktu masih jadi ketua karang Taruna soal narkoba ini lah berapa kali kami sampaikan ke dewan dapil Bukit Intan, ke Polres dan Polsek," katanya.

Anak-anak putus sekolah di RT 01 RW 01 kelurahan Air Mawar kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang, umumnya bekerja sebagai buruh di pabrik bata dan bekerja di tambang inkonvensional (TI) baik sebagai pelimbang maupun menjadi buruh TI.

Ada beberapa yang juga ikut menjadi buruh bangunan.

"Ada juga yang melimbang lah tahu kek duit, ini yang bagi kita miris arahan orangtuanya masih kurang, mereka banyak salah kaprah kalau anak-anak lah pacak cari uang sendiri dak usah sekolah," kata Mulyono.

Mulyono menyebutkan hal ini merupakan persoalan yang dilematis, di sisi lain orangtua tak bisa mengorbankan kebutuhan pendidikan anak untuk bekal masa depan.

Namun, disisi lainnya, ada kebutuhan yang harus dipenuhi seperti makan dan kebutuhan primer lainnya.

"Banyak yang kebentur biaya misalnya dari SD mau ke SMP ini kan biaya cukup besar ini yang paling banyak enggak melanjutkan, tapi ada juga yang memang SD nya enggak lulus, sama juga dengan dari SMP ke SMA, warga kami banyak yang enggak mampu jadi yang dipikirkan masih bisa makan enggak dari hari ke hari," bebernya. (o2/day)

Editor: Alza Munzi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help