BangkaPos/

Mengenal Paspampres, Mesin Perang yang Selalu Siap Jadi Tameng Peluru Bagi Presiden

Di balik kostumnya yang rapi dan elegan seorang personel Paspampres sebenarnya merupakan sesosok ‘’mesin perang’

Mengenal Paspampres, Mesin Perang yang Selalu Siap Jadi Tameng Peluru Bagi Presiden
Tribunnews.com/Yurike Budiman
Ilustrasi: Anggota Paspampres mengawal mobil Presiden. 

BANGKAPOS.COM--Setiap personel pasukan khusus digembleng baik secara fisik maupun mental sehingga sanggup menangani misi-misi tempur yang sulit dilaksanakan oleh pasukan reguler.

Oleh karena itu kendati misi tempur yang dilaksanakan berisiko tinggi umumnya personel pasukan khusus merupakan orang-orang yang tidak takut mati.

Doktrin tempur pasukan TNI memang tidak lagi menganut doktrin bertempur sampai mati demi mempertahankan atau merebut suatu wilayah dengan cara apapun.

Kendaraan taktis Anoa milik Paspampres.
Kendaraan taktis Anoa milik Paspampres. (Tribunnews.com/Nicolas Manafe)

Tapi berperang secara cerdas dan pulang dari medan tempur dalam keadaan selamat.

Namun masih ada juga doktrin tempur bagi TNI yang memiliki prinsip ‘’jadilah tameng peluru bagi Presiden yang sedang dikawal’’, khususnya bagi para personel Pasukan Pengawal Presiden (Paspampres).

Di balik kostumnya yang rapi dan elegan seorang personel Paspampres sebenarnya merupakan sesosok ‘’mesin perang’’.

Ketika sedang bertugas, umumnya personel Paspampres mengenakan rompi antipeluru di dalam baju jasnya, minimal membawa dua senjata api yang tersembunyi di balik baju jasnya yang rapi, alat komunikasi, pisau lempar, dan lainnya.

Jika terjadi ancaman atau serangan terhadap Presiden, para personel Paspampres yang selalu melakukan pengawalan pagar betis melingkar juga siap menjadi tameng peluru.

Waktu menghadapi gempuran tembakan lawan, para pesonel Paspampres tetap berdiri tegak sambil melakukan perlawanan maksimal.

Di hanya akan roboh akibat tembakkan lawan dan tetap berusaha melawan menggunakan senjata api yang semula disarungkan di kakinya.

Halaman
123
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help