Mengenal Paspampres, Mesin Perang yang Selalu Siap Jadi Tameng Peluru Bagi Presiden

Di balik kostumnya yang rapi dan elegan seorang personel Paspampres sebenarnya merupakan sesosok ‘’mesin perang’

Mengenal Paspampres, Mesin Perang yang Selalu Siap Jadi Tameng Peluru Bagi Presiden
Tribunnews.com/Yurike Budiman
Ilustrasi: Anggota Paspampres mengawal mobil Presiden. 

Setelah pusat pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta, Kapten Polisi Tentara Kafrawi mulai mengatur organisasi pengawalan.

Kegiatan Kafrawi ini mendapat dukungan dari Polisi Tentara. Bentukan ini kemudian dinamakan Pasukan Pengawalan Istana Presiden (PPIP).

Sementara Inspektur Mangil memimpin kawal pribadi dengan identitas tetap sebagai polisi.

Pada 22 Juni 1946, dibentuk Polisi Tentara di bawah pimpinan Jenderal Mayor Santoso.

Kemudian dilakukan kembali pengaturan di mana kawal priadi tetap di bawah Inspektur Mangil sedangkan untuk PPIP merupakan 1 kompi Polisi Tentara.

Menjelang tahun 1948, Polisi Tentara AD, Polisi Tentara AL diubah menjadi polisi militer yang meliputi angkatan perang.

Pengawalan VIP kemudian berada di bawah Batalion Mobil B CPM dengan pembagian Kompi I di bawah Kapten Tjokropranolo yang mengawal Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan Kompi II di bawah Letnan Satu Susetio yang mengawal Presiden.

Pada 19 Desember 1948, Presiden Soekarno, Wapres Hatta beserta beberapa menteri membiarkan diri ditawan tentara Belanda.
Sebagian besar Kompi II juga ditawan.  

Namun, Letnan Satu Susetio, Letnan Dua Sukotjo, Letnan Dua Ramelan, beserta 16 orang bintara dan Tamtama dapat meloloskan diri dan terus bergerilya sampai 29 Juni 1946.

Setelah kondisi negara dinyatakan aman, Kompi II kembali mengawal presiden, dan mengambil alih pengawalan Istana Presiden di Merdeka Utara, Jakarta. (Intisari/kompas.com)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help