Kisah Yakuza Jepang, Gangster Kejam yang Dulu Dianggap Bak Robin Hood

Ini bukan cerita kuno, tetapi terjadi zaman sekarang. Tepatnya di Jepang di mana gangster dipandang tinggi oleh sebagian masyarakat

Kisah Yakuza Jepang, Gangster Kejam yang Dulu Dianggap Bak Robin Hood
Wikimedia

Namun saat itu mereka benar-benar diliputi suasana duka.
Dalam rumah duka, tamu-tamu antre melewati peti besar yang pada bagian dekat kepala diberi "jendela" kecil. 

Melalui lubang ini beberapa orang mencium mulut jenazah yang sudah dingin itu.

"Tsumi o nikunde, hito o nikumazu,” kata orang Jepang. 

"Kutuklah perbuatannya, jangan orangnya". 

Bangsa Jepang memang menganut moral tersendiri.

Kesalahan bukan terhapus oleh penyesalan melainkan dengan dilupakan. 

Menurut kepercayaan agama Shinto, kehidupan berakhir dalam sebuah lubang hitam.

Setelah itu tidak perlu lagi memikirkan kesalahan-kesalahan untuk dipertanggungjawabkan pada Pengadilan Akhir Dunia.

Siapapun dia, apakah direktur sebuah perusahaan besar ataupun pemimpin gangster, apapun yang dilakukannya, mereka lakukan itu untuk perusahaan yang dipimpinnnya, entah itu perusahaan mobil ataupun kekerasan.

Bapak Yakuza pertama adalah Banzuin Choberi. 

Empat ratus tahun yang lampau, bersama dengan anak buahnya dia melindungi para orang kaya di desa nelayan Edo (Tokyo sekarang) dari perampok dan pembunuh.

Untuk itu dia menerima imbalan uang yang besar dan dianggap semacam Robin Hood. 

Bahkan di abad ke-18, pemerintah Jepang mengangkatnya sebagai semacam pembantu polisi.

Setiap kelompok memperoleh sebuah "shima", "pulau" dalam kota. Di daerah itu Yakuza praktis pemegang monopoli kekuasaan.

Dengan demikian kejahatan kecil-kecilan hilang, karena kaum Yakuza tidak mau merusak hubungan mereka dengan polisi.

Penduduk pun merasa aman dan kehidupan gangster digambarkan sangat romantis. 
Ini berlangsung hingga sekarang.

Di mana-mana pos polisi

Hirarki keras dalam keluarga besar Yakuza ini menarik bagi orang-orang yang sudah dikucilkan dari masyarakat.

Di sini mereka menemukan nilai dasar kehidupan masyarakat Jepang: Perlindungan, disiplin, setia tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri, kalau perlu sampai mati.

"Yakuza merupakan bagian dari PT Jepang kita sekarang", kata penulis Hiroshi Kimura. 

"Mereka adalah anak-anak sebuah keluarga besar. 

Haruskah kita menyingkirkan mereka, hanya karena perbuatan mereka yang buruk?"

Takeo Miyama, kepala polisi Jepang berpandangan lain: "Bagi saya bagaimanapun mereka tetap gangster dan saya akan berusaha menangkap mereka sebanyak mungkin."

Bulan juni, dengan pasukan istimewanya dia berhasil menyergap 2700 gangster, menyita 118 senjata, 74 pedang samurai dan alat-alat pembuat kerusuhan lain seharga Rp 406 juta.

Tetapi beberapa hari kemudian, kebanyakan sudah dilepaskan lagi. 

Ini berkat boss mereka yang menggunakan relasinya.
Menurut statistik polisi, semua ada 103.955 bandit yang terorganisir dalam 2487 kelompok. 
Ini terjadi di negara industri yang tingkat kriminalnya paling rendah.
Sementara di Jerman Barat yang jumlah penduduknya hanya setengah Jepang, setiap tahun terjadi sekitar 3,5 juta kejahatan. 

Di Jepang tidak sampai setengahnya.
Jalan-jalan di Tokyo aman. 

Ini bukan berkat kehebatan polisinya yang mempunyai pos penjagaan di setiap perempatan jalan, tetapi juga karena adanya rasa kesadaran yang tinggi dari tiap individunya akan tradisi menghormati pemerintah, tanggung jawab dan hormat akan keluarga.

Dari 1843 pembunuhan yang terjadi di Jepang sepertiganya terjadi pada Yakuza. 

Kebanyakan korban jatuh pada waktu terjadi perkelahian antar bandit.(*)

Artikel ini tayang di Intisari dengan judul Kisah Yakuza, Kini Dianggap Gangster Kejam, Dulu Dianggap Robin Hood yang Menciptakan Hubungan Romantis. 

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help