Sering Kelaparan, Janda Miskin dan Putrinya Ini Bertahan Hidup dengan Biji Kakao Sisa Tikus

Demi menyambung hidup, ia memungut sisa biji kakao warga yang terbuang dan mengumpulkan biji kakao sisa

Sering Kelaparan, Janda Miskin dan Putrinya Ini Bertahan Hidup dengan Biji Kakao Sisa Tikus
KOMPAS.com/Junaedi
Hidup di hutan, Sukma dan putrinya Julianti terpaksa memungut biji kakao sisa tikus yang terbuang di kebun milik warga untuk dijual atau ditukar beras agar bisa menyambung hidup. 

BANGKAPOS.COM--Seorang janda miskin Sukma Damayanti dan putrinya Julianti terus berjuang dalam kemiskinan.

Mereka tinggal di sebuah gubuk berdinding pelepah nipah dan serpihan kayu di hutan Kecamatan Tapango, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Demi menyambung hidup, ia memungut sisa biji kakao warga yang terbuang dan mengumpulkan biji kakao sisa makanan tikus di kebun milik warga.

Sukma dan putrinya
Sukma dan putrinya (KOMPAS.com/Junaedi)

Biji kakao tersebut dijual Rp 10.000/kg untuk kemudian ditukar dengan beras. 

Namun mengumpulkan kakao 1 kg bukan hal mudah. Sukma dan julianti harus menyisir kebun ke kebun milik warga sejak pagi hingga sore. 

Saat Julianti sekolah, praktis hanya Sukma yang mencari biji kakao sisa tikus di kebun warga.

Biji kakao yang bercampur sampah dedaunan dan tanah dibersihkan dan dipisah-pisahkan terlebih dahulu. Lalu dijemur atau dikeringkan.
 

Umumnya butuh waktu dua atau tiga hari untuk mengeringkan biji kakao ini sebelum bisa dijual ke pedagang seharga Rp 10.000 per perkilogramnya.

Saat hasil pungutannya tak cukup untuk membeli satu kilogram beras, Sukma kerap membeli makanan apa saja seharga hasil yang ia dapatkan hari itu.

Jika tak ada makanan, ia kerap memungut biji sukun yang jatuh di kebun warga untuk direbus sebagai pengganjal perut.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help