TI Rajuk Jadi Ancaman Ekowisata Rabeng Belinyu

Hasil pengamatan selama beberapa hari ini di kawasan hutan mangrove Sungai Pasir dan sekitarnya sudah ada puluhan TI rajuk

TI Rajuk Jadi Ancaman Ekowisata Rabeng Belinyu
Bangkapos/Edwardi
Rombongan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka dan staf serta tim menemukan puluhan TI rajuk beroperasi di kawasan hutan mangrove Sungai Pasir dan sekitarnya di Kelurahan Air Jukung Kecamatan Belinyu 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA –-Konsultan Kementrian dan pakar kelautan (Oseanografi) Institute Teknologi Bandung (ITB), Denny Sjachulie Abidin  mengatakan keberadaan aktivitas penambangan timah illegal puluhan TI Rajuk di kawasan hutan bakau Sungai Pasir dan sekitarnya di Kelurahan Air Jukung Kecamatan Belinyu merupakan ancaman serius untuk kelestarian habitat hutan mangrove dan biota mangrove.

“Hasil pengamatan selama beberapa hari ini di kawasan hutan mangrove Sungai Pasir dan sekitarnya sudah ada puluhan TI rajuk yang beroperasi secara sporadis merusak habitat mangrove, ini jelas illegal dan mengancam upaya pelestarian mangrove,” kata Denny, Rabu (24/1/2018).

Denny sangat berharap pihak aparat berwenang bisa segera mengambil tindakan untuk mengatasi hal ini, sehingga tidak berlangsung berkepanjangan dan bisa merusak lebih parah habitat hutan mangrove di kawasan ini.

:”Kami berharap pihak pemda melalui dinas perikanan mungkin bisa melaporkan hal ini ke pihak berwenang, seperti Satpol PP Kabupaten Bangka dan Polres Bangka,” harap Denny.

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka H Ahd Sapran menegaskan kegiatan penambangan di daerah aliran sungai (DAS) dan hutan bakau itu jelas salah dan illegal serta tidak memiliki izin.

“Keberadaan TI-TI Rajuk ini harus didokumentasikan dan segera dilaporkan ke pihak berwenang, supaya nanti ke depan tidak mengganggu hutan mangrove dan biota mangrove. Kegiatan  penambangan timah illegal ini jelas bersinggungan dengan kegiatan pelestarian, budidaya dan wisata hutan mangrove ini,” tukasnya.

Diakuinya yang harus menindakan aktivitas TI rajuk ini bukan kewenangan Dinas Perikanan Bangka, namun kewenangan aparat keamanan terkait seperti Satpol PP dan Polres Bangka.

“Kita khawatir ke depannya  kegiatan penambangan ini semakin berkembang  dan menjadi besar sehingga tidak bisa lagi dikendalikan,” imbuhnya.

Sedangan Sirpandi, Ketua Pokdakan Perpat Permai mengatakan kegiatan penambangan TI rajuk itu memang dilakukan oknum masyarakat Belinyu sendiri, dimana semakin hari semakin banyak jumlah TI rajuknya.

“Semula Ti rajuk itu baru ada satu dan dua pontoon saja, tetapi sekarang semakin bertambah mencapai puluhan pontoon. Kegiatan budidaya kepiting bakau kita lebih dahulu dilakukan dibandingkan dengan kegiatan penambangan itu,” tukasnya.

Sementara Rozi, Sekretaris UPP Perikanan Budidaya Kabupaten Bangka menambahkan pada saat rombongan perahu Kepala Dinas Perikanan dan staf, konsultan dan UPP menyusuri kawasan hutan mangrove sempat berpapasan dengan aktivitas penambangan TI rajuk ini.

“Saat berpapasan dengan perahu kita yang lewat, terlihat beberapa pekerja TI rajuk terjun ke sungai, bersembunyi di bawah pontoon, mereka mengira kita tim razia dari pemda, apalagi rombongan kepala dinas perikanan dan stafnya menggunakan pakaian dinas,” ungkap Rozi.(*)

Penulis: edwardi
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help