Dinkes Sebut Penderita Gizi Buruk di Pangkalpinang Bukan Karena Kurang Makan

Gizi buruk tak lepas dari perkembangan anak dari lahir misalnya selama kehamilan harus memantau kehamilannya kemudian

Dinkes Sebut Penderita Gizi Buruk di Pangkalpinang Bukan Karena Kurang Makan
Bangka Pos/ Ardhina Trisila Sakti
kantor Dinas Kesehatan Pangkalpinang 

Laporan wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Balita penderita gizi buruk sebanyak 17 orang tahun 2017 ini jumlahnya lebih banyak dibanding enam kabupaten lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang angkat bicara merespon data jumlah balita penderita gizi buruk di ibukota Babel ini. 

Berdasarkan data dari Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, Eviheriyanto mengatakan sebanyak 17 balita penderita gizi buruk ini berkisar usia 0-59 bulan (5 tahun), 2 balita diantaranya diketahui dari warga pendatang sementara 15 balita lainnya penduduk Kota Pangkalpinang. 

Penderita balita gizi buruk ini tersebar di sembilan puskesmas di Pangkalpinang.

Adapun puskesmas Gerunggang menyumbang penderita balita kurang gizi paling banyak sekitar delapan orang.

Dijelaskan Eviheriyanto, penderita gizi buruk di Pangkalpinang bukan diakibatkan karena kurang makanan melainkan disebabkan penyakit penyerta seperti TBC, hidrocepalus, diare, selebralpasi dan gangguan mental.

"Gizi buruk tak lepas dari perkembangan anak dari lahir misalnya selama kehamilan harus memantau kehamilannya kemudian setelah ia melahirkan pun. Di awal anaknya sakit jadi konsumsi makanan bergizinya terganggu," terang Kepala Dinas Kesehatan Pangkalpinang, Ristum Alamsyah kepada Bangka Pos, Kamis (25/1).

Sebagai tindakan preventif, Dinas Kesehatan menyarankan agar ibu hamil merawat masa kehamilannya dengan cara memeriksakan kehamilannya di Posyandu.

Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang menggarkan bantuan berupa edukasi dan makanan tambahan susu dan biskuit.

Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang pun saat ini menggerakkan program 1.000 hari pertama kehidupan. Sebab  usia dua tahun balita menjadi periode emas yang harus dijaga. 

"Kita melakukan penanganan sesuai tanggung jawab kita sebagai lini pertama. Kalau butuh penanganan kita sarankan mendapat perawatan ke rumah sakit. Dengan data itu dari Dinas Kesehatan gak terlalu terkejut karena kita tahu penyebabnya kenapa, bukan karena kurang makan tapi karena faktor kesehatan," tutup Eviheriyanto.(*)

Penulis: Ardhina Trisila Sakti
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved