Video Pidato Kapolri Soal Ormas Islam Jadi Viral, Ternyata Ini yang Terjadi

Kapolri menegaskan, tidak ada niat untuk tidak membangun hubungan dengan organisasi Islam di luar NU dan Muhammadiyah.

Video Pidato Kapolri Soal Ormas Islam Jadi Viral, Ternyata Ini yang Terjadi
Tribun Medan/Array
Kapolri, Jendral Tito Karnavian memastikan kegiatan ngunduh mantu puteri Presiden RI Jokowidodo di Medan berjalan lancar, Jumat (24/11/2017) 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyampaikan klarifikasi soal video pidatonya yang menimbulkan reaksi dari sejumlah ormas Islam.

Klarifikasi disampaikan di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj beserta perwakilan 14 ormas Islam yang tergabung di Lembaga Persatuan Ormas Islam (LPOI).

//

"Saya memberikan klarifikasi tentang konteks-konteks pidato saat itu. Saya menyampaikan kronologi, kontekstual, dan isi seperti apa," tutur Tito.

Baca: Zumi Zola Dicegah ke Luar Negeri Gara-gara Tersangkut Kasus Ini

Mantan Kapolda Metro Jaya tersebut mengaku kaget dengan beredarnya video berdurasi sekitar 26 menit tersebut.

Dia mengetahui ada video itu saat posisinya berada di luar kota.

Lalu, dia memerintahkan staf untuk mencari tahu video tersebut.

Akhirnya, diketahui pernyataan itu disampaikan pada 8 Februari 2017 di acara halaqoh yang diselenggarakan pesantren milik Ketua Majelis Ulama Indonesia, Maruf Amin.

"Kata sambutan saya itu cukup panjang kurang lebih 26 menit, tetapi dipotong 2 menit. Dan 2 menit itu mungkin ada bahasa-bahasa yang kalau hanya dicerna 2 menit itu membuat beberapa pihak kurang nyaman," kata dia.

Selain bertemu dengan Said Aqil beserta perwakilan dari LPOI, mantan kepala BNPT itu mengaku sudah bertemu dengan Maruf Amin.

Baca: Ahok Diyakini Kalah Besar Lagi Dalam Sidang Cerai Lawan Veronica Tan

Menurut dia, Maruf Amin sebagai saksi yang mengundang dan mendengar kata sambutan tersebut.

Dalam kesempatan itu, dia menegaskan, tidak ada niat untuk tidak membangun hubungan dengan organisasi Islam di luar NU dan Muhammadiyah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Mochammad Iqbal mengatakan hal serupa, video pidato Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian soal ormas Islam yang viral sudah terpotong-potong.

Pidato dalam video tersebut disampaikan di Pondok Pesantren Annawawi, Serang, Banten, 8 Februari 2017. Durasi aslinya selama 26 menit.

Sementara video yang beredar hanya berdurasi sekitar 2 menit.

"Itu sudah dipotong-potong jadi kalimat tidak utuh. Bagaimana kalimat tidak utuh berarti pesan tidak utuh juga," ujar Iqbal.

Baca: Kode-kode Khusus Pelaku Prostitusi Online, Mereka Jualan Ini Saat Beraksi di Media Sosial

Iqbal mengatakan, potongan video itu menyebabkan beberapa pihak menginterpretasikan sendiri maksudnya.

Bahkan, tidak sedikit yang menyalahkan Kapolri atas pernyataan yang dianggap mengesampingkan ormas Islam selain Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Meski begitu, Polri belum akan mengusut siapa orang yang menyebarkan video yang tidak utuh itu.

Yang terpenting, kata Iqbal, publik mengetahui bahwa tak ada maksud Kapolri untuk mengesampingkan ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah.

"Kita kan sedang mempersiapkan pengamanan pesta demokrasi. Jangan sampai hal ini menjadi senjata kelompok ingin mengacaukan," kata dia.

Baca: Fenomena Menakjubkan Super Blue Blood Moon di Berbagai Negara, Lihat Foto-fotonya!

Sebelumnya, Tito Karnavian dalam acara Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan Ulama PBNU dengan Jajaran Polri di Pondok Pesantren milik Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, An Nawawi Tanara di Serang, Banten, Februari 2017.

Saat itu Tito menyerukan agar jajarannya bekerja sama dengan NU dan Muhammadiyah.

"Semua kapolda saya wajibkan untuk membangun hubungan NU dan Muhammadiyah tingkat provinsi. Semua kapolres untuk wajib membuat kegiatan untuk memoperkuat para pengurus cabang di tingkat kabupaten/kota. Para kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan dengan yang lain. Dengan yang lain tuh nomor sekian, mereka bukan pendiri negara. Mau merontokkan negara malah iya," tutur Tito dalam video tersebut.

Syarikat Islam Minta Penjelasan

Organisasi Masyarakat (Ormas) Syarikat Islam yang dipimpin Hamdan Zoelva menemui Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian untuk meminta klarifikasi terkait sebuah video yang belakangan menjadi viral.

Video itu menampilkan pidato Tito di Pondok Pesantren Annawawi, Serang, Banten, 8 Februari 2017.

Baca: Mesranya Raisa dan Hamish Daud, Netizen Baper Sebut Ganteng Bener Suami Orang

Dalam video itu, Kapolri melontarkan pernyataan yang seolah mengesampingkan ormas Islam di luar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

"Tadi kami minta klarifikasi tentang pernyataan itu dan (Tito) menyampaikan kronologis cerita yang cukup lengkap tentang bagaimana pernyataan itu sebenarnya," ujar Hamdan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, Hamdan menganggap tak ada niat Tito untuk mengesampingkan ormas selain NU dan Muhammadiyah.

Pernyataan itu disampaikan Tito di pondok pesantren milik Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin pada Februari 2017.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian didampingi Gubernur Kaltara Irianto Lambrie dan jajaran Polri lainnya berkunjung di Gedung DPRD Bulungan di Desa Bumi Rahayu, Tanjung Selor 15 Desember 2017. Gedung ini akan digunakan sebagai markas sementara Polda Kaltara. TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Kapolri Jenderal Tito Karnavian didampingi Gubernur Kaltara Irianto Lambrie dan jajaran Polri lainnya berkunjung di Gedung DPRD Bulungan di Desa Bumi Rahayu, Tanjung Selor 15 Desember 2017. Gedung ini akan digunakan sebagai markas sementara Polda Kaltara. TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN (Tribun Kaltim/Muhammad Arfan)

Menurut Tito, kata Hamdan, pidato itu sebenarnya berdurasi 26 menit. Sementara video yang viral hanya berdurasi sekitar dua menit.

Dengan demikian, banyak bagian video yang terpotong sehingga pesan utuhnya tidak tersampaikan.

"Pidato itu terpotong-potong sehingga menghilangkan seluruh rangkaian cerita pidato yang saat itu dilakukan," kata Hamdan.

Baca: Wanita Kakak Beradik Nekat Lumpuhkan Pria Penjambret

Hamdan mengaku protes keras dengan pernyataan Kapolri begitu melihat video yang viral.
Namun, setelah mendapat penjelasan langsung dari Tito, dirinya bisa memahami dan meyakini bahwa Tito tidak berniat mendiskriminasi ormas Islam.

"Tidak ada niat sama sekali beliau untuk mengenyampingkan ormas Islam lain dan untuk menyatakan ormas lain merontokkan negara. Tidak ada," kata Hamdan.

Hamdan mengatakan, konteks pernyataan Tito dalam pidato tersebut ingin memberitahu bahwa ada ormas Islam radikal yang bisa memecah belah bangsa.

Ia percaya pada penjelasan Kapolri karena ada saksi hidup yang mengamati pidato saat itu, yakni Ma'ruf sendiri.

Hamdan meminta agar video yang viral tersebut tidak dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengadu domba dan mengganggu persatuan bangsa.

Apalagi saat ini situasi menjelang Pilkada sudah cukup panas. Hamdan memberi saran kepada Kapolri agar menayangkan video pidato tersebut secara lengkap agar masalah menjadi clear.

"Sampai-sampai beliau mengatakan kalau memang ada yang kurang, ada yang salah, saya mohon maaf. Beliau sampaikan begitu," kata Hamdan.

Baca: Tertawa Ngakak Ternyata Dapat Picu Kematian, Sopir Truk Es Krim Ini Contohnya

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), Said Aqil Siradj, meminta semua pihak supaya menghentikan polemik beredarnya video pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang dinilai menyinggung ormas Islam.

Said Aqil sudah mendengar klarifikasi dari mantan Kapolda Metro Jaya itu. Tito menyampaikan keterangan mengenai video itu di kantor PBNU, Jakarta.

Selain Said Aqil, di kesempatan itu turut hadir perwakilan 14 ormas Islam yang tergabung di Lembaga Persatuan Ormas Islam (LPOI). Pertemuan itu berlangsung tertutup.

"Masalah potongan pidato pak kapolri yang ada di video viral itu sudah selesai, tidak lagi ada kelanjutan. Sudah tidak ada lagi diperlukan Tabayun. Sudah selesai di sini," tutur Said Aqil, ditemui di Kantor PBNU.

Apabila ada yang ingin melanjutkan, maka dia menuding oknum itu berniat tidak baik.
"Kalau yang ingin mengembangkan itu berarti ada tujuan yang kurang baik," tegasnya.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin mengaku sudah berkomunikasi dengan Tito terkait video tersebut.

Dalam percakapan via telepon itu, Tito menyampaikan penyesalan telah mengucapkan pernyataan yang menyinggung umat Islam.

"Secara pribadi sudah menelepon. Beliau klarifikasi dan menyesalkan," kata dia. (Tribun Network/glery lazuardi/kps/wly)

Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved