Tak Ada Ampun di Jaman Petrus, Para Bandit Bertumbangan di Jalanan

Para preman diburu oleh tim Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK) yang kemudian dikenal sebagai penembak misterius (Petrus).

Tak Ada Ampun di Jaman Petrus, Para Bandit Bertumbangan di Jalanan
Shutterstock
Ilustrasi 

Dalam rapat yang membahas keamanan di ibukota itu kemudian diputuskan untuk melaksanakan operasi untuk menumpas kejahatan bersandi, Operasi Celurit di Jakarta dan sekitarnya.  Operasi Celurit itu selanjutnya diikuti oleh Polri/ABRI di masing-masing kota serta provinsi lainnya. 

Dari segi jumlah, Operasi Celurit yang notebene merupakan aksi Petrus itu, pada tahun 1983 berhasil menumbangkan 532 orang yang dituduh sebagai pelaku kriminal.  Dari semua korban yang terbunuh, 367 orang di antaranya tewas  akibat luka tembakan. 

Tahun 1984 korban OPK yang tewas  sebanyak 107 orang, tapi hanya 15 orang yang tewas  oleh tembakan. Sementara tahun 1985, tercatat 74 korban OPK tewas dan 28 di antaranya tewas karena tembakan. 

Secara umum para korban Petrus saat ditemukan dalam kondisi tangan dan leher terikat.  Kebanyakan korban dimasukkan ke dalam karung dan ditinggal di tepi jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, laut, hutan, dan kebun.  Yang pasti pelaku Petrus terkesan tidak mau bersusah-susah membuang korbannya karena bila mudah ditemukan efek shock therapy yang  disampaikan akan lebih efektif. 

Sedangkan pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal atau dijemput aparat keamanan.  Akibat berita yang demikian gencar mengenai OPK yang berhasil membereskan ratusan penjahat, para petinggi negara pun akhirnya berkomentar positif dan negatif.. 

Kendati sejumlah petinggi negara telah melontarkan pendapatnya, toh Petrus yang beraksi secara rahasia itu tetap tidak tersibak misterinya. Beberapa tahun kemudian Presiden Soeharto justru memberikan uraian tentang latar belakang permasalahannya. 

Baca: Ratna Sari Dewi Tolak Lamaran 2 Juta Pria Kaya, Lebih Pilih Soekarno Jadi Pendamping Hidupnya

Tindakan keamanan tersebut memang terpaksa dilakukan sesudah aksi kejahatan yang terjadi di kota-kota besar Indonesia semakin brutal dan makin meluas.  Seperti tertulis dalam buku Benny Moerdani : Profil Prajurit Negarawan, Pak Harto berujar:

Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment therapy, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya harus dengan kekerasan’’. 

‘’Tapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor-dor! Begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak’’. 

‘’Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya’’. 

‘’Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan. Maka kemudian redalah kejahatan-kejahatan yang menjijikan itu.”

(Intisari-Online/Agustinus Winardi)

Artikel ini sebelumnya diterbitkan Intisari-Online berjudul Mengenang Petrus, Penembakan Misterius yang Membuat para Bandit Bertumbangan di Jalanan

Editor: fitriadi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help