Hasang Menahan Tangis Sembahyang di Kelenteng yang Habis Terbakar

Hasang seorang pengurus kelenteng sesekali menahan tangis dalam sembahyangnya melihat keadaan kelenteng yang tak lagi sama.

Hasang Menahan Tangis Sembahyang di Kelenteng yang Habis Terbakar
Bangkapos/Adinda Rizki Amanda
Hasang saat sembahyang di kelenteng yang habis terbakar 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Adinda Rizki Amanda

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Kelenteng Cetya Tulus Bakti di Desa Sungaiselan Kecamatan Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah, yang dulu berdiri kokoh kini habis dimakan api. Warna cat kelenteng yang cerah berubah hitam gelap di setiap sudut reruntuhan.

Hasang sembahyang di kelenteng yang masih nampak berantakan usai terbakar beberapa hari lalu
Hasang sembahyang di kelenteng yang masih nampak berantakan usai terbakar beberapa hari lalu (Bangkapos/Adinda)

Hasang seorang pengurus kelenteng sesekali menahan tangis dalam sembahyangnya melihat keadaan kelenteng yang tak lagi sama. Abu dimana-mana runtuhan genteng berserakan di lantai sampai bau gosong masih sedikit melekat di wilayah kelenteng membuatnya sedih merayakan Imlek tahun ini.

Warga Tionghoa di desa Sungaiselan terpaksa sembahyang dengan keadaan kelenteng yang habis terbakar. Suasana Imlek tahun ini pun dirasa berbeda karena kelenteng yang sering menjadi tempat sembahyangnya umat Konghucu ini runtuh dilalap api.

A Jin warga Tionghoa yang tinggal di sekitar kelenteng mengungkapkan kesedihannya.

"Tahun ini perayaan Imlek agak berbeda karena kami sekarang harus sembahyang dengan keadaan kelenteng yang terbakar, meski begitu kami tetap merayakan Imlek bersama," tuturnya, Jumat (16/2/2018).

Konsleting listrik berhasil membuat Kelenteng yang berusia lebih dari 100 tahun ini runtuh dimakan api. Kini tinggal pondasi kelenteng dan patung dewa kwanti lah yang masih tersisa. Ketika ditemui awak media di kediamannya hasang banyak bercerita jika sebelumnya kecalakaan kecil pernah terjadi ketika ritual sembayang rebut Tionghoa tahun lalu.

"Tahun kemarin ketika kami sembahyang rebut ada lilin jatuh hingga muncul api kecil, sejak saat itu lilin di kelenteng selalu saya matikan sehabis saya sembahyang," ungkapnya.

Hasang juga menceritakan dulu masih banyak warga Tionghoa di desa Sungaiselan, sekitar 100 KK pernah menetap di desa, namun saat ini tinggal 4 KK yang masih bertahan.

"Dulu masih ramai, kalo diukur dari kelenteng sampai Polsek itu semua warga Tionghoa tapi sekarang sudah banyak yang pindah," kata hasang.

Meski begitu hasang bertekad tidak pernah patah semangat mengurus kelenteng.  (q3)

Hasang sembahyang di kelenteng yang terbakar
Hasang sembahyang di kelenteng yang terbakar (Bangkapos/Adinda)
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved