Pakai 'Ilmu Hitam' Playboy Ganteng Ini Sukses Membobol Bank Rp 3,2 Triliun

Itu adalah sekelumit awalan dari kisah pelarian uang sebanyak Rp3,2 triliun, sebagaimana dilaporkan

Pakai 'Ilmu Hitam' Playboy Ganteng Ini Sukses Membobol Bank Rp 3,2 Triliun
BBC Indonesia
Bank Islam Dubai yang dibobol playboy Foutanga Babani Sissoko Rp 3,2 triliun 

Lantaran helikopter yang diinginkan Sissoko bisa dipakai untuk keperluan militer, moda transportasi itu perlu ijin ekspor khusus.

Anak buah Sissoko mencoba mempercepat proses tersebut dengan menawarkan uang suap sebesar US$30.000 kepada petugas bea cukai.

Alih-alih urusan kelar, anak buah Sissoko ditahan. Tak hanya itu, kepolisian internasional alias Interpol merilis surat penahanan Sissoko. Dia ditangkap di Jenewa, saat akan membuka rekening bank di sana.

Tom Spencer, seorang pengacara asal Miami yang diminta untuk membela Sissoko, mengingat jelas adegan saat mengunjungi kliennya di Penjara Champ-Dollon, Jenewa.

"Saya bicara dengan kepala sipir, yang bertanya apakah Sissoko jadi ke Amerika Serikat atau tidak," kenang Spencer.

"Saya bilang, 'Ya kita lihat nanti. Dia berkata, 'Tolong tunda selama mungkin'. Kata saya, 'Mengapa?' Dia pun mengaku, "Karena dia mengirimkan hidangan mantap dari Paris setiap malam untuk kita'. Itulah pertemuan aneh saya dengan Baba Sissoko".


Sissoko tak lama di Swiss karena dia segera diekstradisi ke AS. Di sana, para pendukungnya ternyata banyak dan berpengaruh.

Kesiapan sejumlah diplomat untuk membela Sissoko mengejutkan hakim yang memimpin sidang jaminan. Tom Spencer pun kaget ketika mantan senator AS, Birch Bayh, menyatakan bakal bergabung dengan tim kuasa hukum Sissoko.

"Saya kan jadi bertanya-tanya, mengapa ada yang mau terlibat dengan seorang asing yang tidak ada nilainya untuk Amerika Serikat?" kata Fine.
"Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu. Tapi menarik ditanyakan," tambahnya.

Pemerintah AS sejatinya ingin Sissoko mendekam di penjara, namun dia dibebaskan dengan uang jaminan sebesar US$20 juta atau Rp271 miliar—rekor di negara bagian Florida saat itu.

Selepas dari penjara, pria tersebut belanja besar-besaran.
Setiap anggota tim kuasa hukumnya dihadiahi mobil Mercedes atau Jaguar. Dan itu hanya permulaan.

Sissoko menghabiskan setengah juta dollar hanya di sebuah toko perhiasan. Ratusan ribu dollar lagi dia habiskan di toko lain. Bahkan, seingat Fine, Sissoko menghabiskan lebih dari US$150.000 (Rp2 miliar) di sebuah toko busana pria.

"Dia masuk begitu saja dan membeli dua, tiga, empat mobil pada saat bersamaan. Balik lagi minggu depannya dan membeli dua, tiga, empat mobil sekali beli. Uangnya seperti angin," sebut pengusaha gerai mobil, Ronil Dufrene.

Berdasarkan perhitungannya, dia menjual 30 sampai 35 mobil kepada Sissoko.

Sissoko langsung menjadi selebrita di Miami. Sebenarnya dia sudah punya beberapa istri, tapi dia toh menikah lagi dan menempatkan istri-istrinya di antara 23 apartemen yang dia sewa di kota tersebut.

"'Playboy' adalah kata tepat untuk menggambarkannya. Karena dia sangat elegan dan tampan. Gaya busananya keren. Dia habis banyak uang di Miami, " kata sepupu Sissoko, Makan Mousa.

Selain foya-foya, Sissoko memberikan banyak sumbangan. Saat itu, jadwal sidangnya makin dekat dan dia tahu sorotan media merupakan hal yang baik.

Pada suatu ketika, dengan disaksikan sepupunya, dia memberikan Rp5,7 miliar kepada band sebuah sekolah yang memerlukan uang ke New York untuk memeriahkan parade Hari Thanksgiving.

Salah satu pengacaranya, Prof H T Smith, mengingat bahwa setiap hari Kamis, Sissoko akan berputar keliling kota dan memberikan uang kepada gelandangan.

"Saya berpikir, apakah ini Robin Hood modern? Mengapa pula seseorang mencuri uang dan membagikannya? Tidak masuk akal," kata Smith.

"(Surat kabar Miami) Herald menampilkan artikel setelah dia pergi. Dan saya tidak ingin melebih-lebihkan, tapi seingat saya mereka menulis bahwa mereka bisa menjabarkan US$14 juta yang dia berikan. Dia di sini hanya 10 bulan. Itu kan lebih dari sejuta dollar setiap bulan."

Alan Fine memandang perilaku Sissoko dengan sinis.

"Sebagian besar yang dia bagikan adalah demi pencitraan dan melanggengkan anggapan bahwa dia orang yang sangat berkuasa dan luar biasa kaya. Dia memang membagi-bagi uang, tapi..sepengetahuan saya tindakan itu tidak pernah dilakukan tanpa mendapat sorotan media," papar Fine.

Walau dianggap menjalankan aksi pencitraan, Sissoko menepis saran pengacaranya dan mengaku bersalah di pengadilan.

Mungkin dia sudah berhitung bahwa pengakuannya ini tidak akan terlalu menimbulkan terlalu banyak pertanyaan atas keuangannya.

Dia dihukum mendekam 43 hari di penjara dan denda US$250.000 yang tentunya dibayar Bank Islam Dubai, tanpa sepengetahuan bank tersebut.
Setelah menjalani setengah dari masa tahanan, Sissoko dibebaskan.

Sebagai gantinya, dia menyumbangkan US$1 juta (Rp13,5 miliar) untuk pembangunan rumah singgah bagi kaum gelandangan.

Sissoko memutuskan pulang ke Mali. Di sana dia disambut bagai seorang pahlawan.

Pada masa itulah, auditor Bank Islam Dubai mulai menyadari ada yang tidak beres. Ayoub mulai gugup dan Sissoko berhenti menjawab panggilan telepon.

Akhirnya Ayoub memberi pengakuan ketika ditanya berapa banyak uang yang hilang. Karena terlalu malu, Ayoub menuliskannya di secarik kertas—890 juta dirham atau setara dengan Rp3,2 triliun.

Ayoub dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun atas dakwaan penipuan. Ada gosip yang menyebutkan dia juga dipaksa menjalani ritual tertentu guna menyembuhkan kepercayaannya pada ilmu hitam.

Sissoko tidak pernah dihukum terkait uang Bank Islam Dubai. Pengadilan di Dubai memang menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara, tapi dia tidak berada di kawasan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, Interpol merilis surat penahanan dan dia tetap berstatus buronan.

Saya menemukan beberapa dokumen di persidangan lain yang tidak dihadiri Sissoko, termasuk sidang di Paris. Pengacaranya mengklaim dia hanyalah kambing hitam dari aksi Ayoub dan uang dari bank telah mengalir ke tempat lain.

Akan tetapi, pengadilan tidak percaya pengakuan itu dan menjatuhkan vonis bersalah atas kejahatan pencucian uang.

Selama 12 tahun, antara 2002 hingga 2014, Sissoko menjabat sebagai anggota parlemen di Mali yang membuatnya kebal hukum. Lalu, selama empat tahun terakhir, meski tak lagi menjabat anggota parlemen, Sissoko tetap tak tersentuh lantaran Mali tidak punya perjanjian ekstradisi dengan negara lain.

Bagaimanapun, Bank Islam Dubai tetap memburunya melalui pengadilan.

Saya bertolak ke ibu kota Mali, Bamako, untuk mencari seseorang yang bisa bercerita soal Sissoko.

Jejak yang saya telusuri mempertemukan saya dengan penjahit busana langganan Sissoko.

"Terakhir kali saya berjumpa dengannya, dua atau tiga tahun lalu, saya membuat baju untuknya sampai satu koper. Jika dia tidak memberi hadiah, dia tidak gembira. Itu gayanya. Dia suka memberi untuk orang," ujar perempuan itu.

Saya juga bertemu dengan sopirnya, Lukali Ibrahim.
"Hal bagus tentangnya adalah ketika semua berjalan baik, pasti ada banyak hadiah darinya. Dia suka membantu menyelesaikan masalah orang," kata Ibrahim.

"Hal jelek, saya juga bisa katakan. Dia adalah seseorang yang selalu memberi harapan kepada orang. Namun, ketimbang berkata jujur, dia terus memperdaya."

Di pasar, saya berjumpa dengan pengrajin emas yang memuji Sissoko yang sering menelepon dan meminta dibuatkan hadiah untuk teman-temannya.

Saya juga mendengar dia bisa dijumpai di dekat kampung kelahirannya, Dabia, dekat perbatasan Mali degan Guinea dan Senegal.

Setelah lama mengemudi, saya menemukan rumah yang pas dengan keterangan yang saya peroleh.

Tiba-tiba, dikelilingi pengawal bersenjata, Baba Sissoko muncul. Kini, mungkin dia berusia 70 tahun.

Dia sepakat diwawancarai. Suasananya tegang dan sedikit tidak nyata. Dia mulai menceritakan kepada saya kisah hidupnya, dimulai dari saat dia lahir.

"Nama saya Sissoko Foutanga Dit Babani. Anda tahu, pada hari saya lahir, semua desa di sekitar sini terbakar habis. Para penduduk berteriak, 'Marietto melahirkan seorang putra'. Api terus melompat. Dulu di sekitar sini ada banyak semak," papar Sissoko.

Dia kemudian mengutarakan tentang upayanya membangun desa kembali, yang dimulai pada 1985. Sissoko berkisah pula soal uang yang dia hasilkan. Pada suatu ketika dia mengklaim berhasil menggalang US$400 juta (Rp5,4 triliun).

Saya bertanya tentang US$242 juta (Rp3,2 triliun) yang dia terima dari Bank Islam Dubai.

"Nyonya, uang US$242 juta ini, adalah cerita yang sedikit gila. Orang dari bank yang seharusnya menjelaskan bagaimana mereka bisa kehilangan uang sebanyak itu.

"Maksud saya, ini US$242 juta. Bagaimana mungkin uang tersebut berpindah dari bank? Itu masalahnya. Ini bukan satu orang saja (Ayoub) yang punya kewenangan untuk transfer. Ketika bank mentransfer uang, bukan satu orang yang melakukannya. Beberapa orang harus melakukannya," papar Sissoko.

Saya mengutarakan bahwa Mohammed Ayoub dalam keterangan di persidangan mengklaim bahwa Sissoko sengaja mengguna-gunanya.

"Pria yang Anda bicarakan itu, saya pernah melihat dan menemuinya," kata Sissoko.

Namun, membawa kabur uang Rp3,2 triliun serta-merta dia bantah.

"Satu-satunya pertemuan saya dengannya adalah saat saya membeli mobil. Bank membelinya untuk saya dan saya membayar pinjaman. Mobil itu buatan Jepang."

Apakah dia telah mengendalikan orang menggunakan ilmu hitam?

"Nyonya, jika seseorang punya kekuatan semacam itu, untuk apa dia bekerja? Jika Anda punya kekuatan semacam itu, Anda bisa berada di tempat dan merampok semua bank di dunia. Di AS, Prancis, Jerman, semaunya. Bahkan di sini di Afrika. Anda bisa merampok semua bank yang Anda inginkan."

Saya bertanya apakah dia masih kaya.
Jawabannya gamblang.

"Tidak, saya tak lagi kaya. Saya miskin."
Selama 20 tahun Sissoko bisa lolos dari kejaran Interpol, meskipun dia telah menghamburkan uangnya dan tak bisa meninggalkan Mali.

Dia tak pernah mendekam sehari pun di penjara atas tindakan pembobolan bank menggunakan ilmu hitam.

(Brigitte Scheffer/BBC Indonesia)

Artikel ini diambil dari BBC Indonesia berjudul: Pengakuan seorang playboy yang kabur membawa Rp3,2 triliun menggunakan ‘ilmu hitam’

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved