Pola Asuh Berpengaruh terhadap Kurangnya Asupan Gizi pada Balita di Babel

Status gizi balita stunting mengalami kenaikan dari 21,9 persen di tahun 2016 menjadi 27,3 persen pada tahun 2017.

Pola Asuh Berpengaruh terhadap Kurangnya Asupan Gizi pada Balita di Babel
Bangkapos/Ira
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung, drg. Mulyono Susanto 

Laporan wartawan Bangkapos, Ira Kurniati

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Menurut data Pemantauan Status Gizi (PSG) Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung, status gizi balita stunting mengalami kenaikan dari 21,9 persen di tahun 2016 menjadi 27,3 persen pada tahun 2017.

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Kadis Kesehatan Babel, drg Mulyono Susanto mengakui peningkatan angka stunting di Babel setahun belakangan naik. Meskipun secara nasional masih di bawah angka persentase tingkat nasional, Senin (19/2/2018).

"Tahun 2017 stunting ini meningkat dari 21,9 persen di tahun 2016 menjadi 27,3 persen. Walaupun masih di bawah standar nasional 29 persen. Tapi kami berharap bisa ditekan sampai di bawah 20 persen," kata Mulyono.

Dia menambahkan, Kabupaten Bangka Barat menjadi fokus daerah yang harus diintervensi. Bangka Barat satu di antara 100 kabupaten di Indonesia yang diintervensi terkait stunting.

Kemudian dia mengimbau kepada orangtua agar memberikan makanan yang bergizi agar asupan gizi balita terpenuhi. Selain itu pola asuh dan kepedulian orangtua akan makanan sehat juga sangat dibutuhkan.

"Makanan bergizi tidak harus mahal. Yang terpenting memilih asupan makanan yang tepat serta tidak makan jajanan yang tidak sehat." pesannya. (q6)

Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help