Bau Tak Sedap di Pesisir Tanjungpendam Diprediksi Berlangsung Selama Satu Bulan

bau tak sedap yang ditengarai berasal dari "Sarak" biasanya akan berlangsung selama satu bulan. ‎ Sarak ini bahkan disebut beracun.

Bau Tak Sedap di Pesisir Tanjungpendam Diprediksi Berlangsung Selama Satu Bulan
Pos Belitung/Dedy Qurniawan
Anak-anak bermain di pesisir Pantai Tanjungpendam arah Jalan Pattimura, Kecamatan Tanjungpendam, Belitung, Selasa (6/3/2018). 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - M Manaf (75) warga di sekitar Jalan Pattimura, Kecamatan Tanjungpandan, Belitung, menuturkan, bau tak sedap yang ditengarai berasal dari "Sarak" biasanya akan berlangsung selama satu bulan. ‎ Sarak ini bahkan disebut beracun.

Manaf menyebut, Sarak adalah semacam tumbuhan di tengah laut yang dibawa ke pesisir pantai.

"Kalau ikan makannya mati, ini akan berlangsung lama biasanya sekitar sebulan. Nanti akan makin banyak, tebal. Baunya akan makin bau lagi, karena baru dia macam cat, tapi makin lama, makin numpuk, warnanya hitam lengket-lengket ini," ucap Manaf kepada posbelitung.co, Selasa (6/3/2018).

Heni, anak Manaf, mengatakan, bau tak sedap ini menggangu usaha kafe dan resto yang ia buka di pesisir pantai tersebut.

"Tadi siang ada tamu dari Jakarta, kayak terganggu begitu, mau tak maulah," ucap Heni.

Sebelumnya diberitakan, bau tak sedap tercium di sepanjang pesisir Pantai Tanjungpendam, arah Jalan Pattimura, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Selasa (6/3/2018). Bau tak sedap bahkan tercium sejak di Jalan Raya Pattimura.

Pantauan posbelitung.co‎, bau tak sedap itu diduga berasal dari semacam zat yang terkandung di dalam air laut. Zat tersebut berwarna agak kehijau-hijauan‎ dan tampak tak menyatu dengan air serta tersebar di sepanjang pesisir di Jalan Pattimura.

Di medsos kabar ini dihebohkan netizen. Ada yang menganggap bahwa laut tercemar.

Ada pula yang menyebut bau ini disebabkan oleh fenomena alam yang disebut Sarak atau sejenis alga yang mati akibat perubahan musim dan biasanya terdampar di sekitar pantai.‎ "Sarak" ini juga disebut beracun.

"Ini Sarak namanya kalau orang Belitong nyebutnya. Dulu kerap muncul setahun sekali. Habis itu lah puluhan tahun tidak ada, baru ini pula ada," ujar Manaf kepada Pos Belitung. ‎ (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help