Ini 10 Cawapres Ideal Mendampingi Jokowi No 8,9 Lawan Bakal Ciut

Setahun lagi pesta demokrasi seluruh rakyat Indonesia akan menentukan siapa menahkodai tanah air. Beberapa nama baru muncul

Ini 10 Cawapres Ideal Mendampingi Jokowi No 8,9 Lawan Bakal Ciut
Kolase Sriwijaya Post
Cawapres 

BANGKAPOS.COM - Setahun lagi pesta demokrasi seluruh rakyat Indonesia akan menentukan siapa menahkodai tanah air. 

Beberapa nama baru muncul baik menjadi calon Presiden maupun calon wakil Presiden. 

Tapi, wajah lama masih cukup kuat dan disebut-sebut pertarungan 2019 akan memunculkan pertarungan head to head seperti Pilpres 2014 silam. 

//

Joko Widodo dan Prabowo Subianto sepertinya masih menjadi sosok sentral pertarungan politik tahun depan. 

Jokowi sendiri sebagai Presiden saat ini begitu laris manis mendapat banyak dukungan dari beberapa partai Politik. 

//

Bahkan, setidaknya saat ini ada 10 nama yang beredar di beberapa survei akan mendongkrak kekuatan Jokowi untuk bertarung di Pilpres 2019. 

Dilansir dari beberapa sumber, Sripoku.com merangkum beberapa nama yang akan menjadi kekuatan Jokowi untuk kembali menduduki kursi Presiden. 

Berikut daftarrnya,

1. Puan Maharani

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dalam sesi wawancara di Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (31/10/2014).
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani dalam sesi wawancara di Kantor Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (31/10/2014). (KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)

Dibeberapa survei, nama Puan Maharani mencuat menjadi salah satu Cawapres yang ideal mendampingi Jokowi. 

Putri Megawati ini, merupakan wanita cerdas dan cukup sukses sebagai Menko PMK. 

Namun jika Jokowi berpasangan dengan Puan Maharani, Jokowi memang akan sangat kuat dengan partai pemenang yang mengusungnya.

Tapi kekuatan Jokowi sedikit berkurang dari beberapa partai lain. 

Meskipun, dengan segala kemampuannya nama Puan layak dipertimbangkan sebagai cawapres Jokowi 2019.

 2. Budi Gunawan

Jenderal Budi Gunawan.
Jenderal Budi Gunawan. (Okezone News)

Nama kedua yang muncul menjadi Cawapres ideal Jokowi, adalah mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal Budi Gunawan adalah sosok yang tepat.

Ia pekerja tulen, bekerja keras dalam diam, professional dalam membangun intitusi dimana saja ia ditempatkan.

Sebagai mantan Kepala BIN, BG demikian sapaanya, berhasil mendongkrak kinerja BIN, terutama dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme.

Ketegasan BG dan BIN dalam melawan kelompok radikal dan teroris adalah prestasi yang pantas diapresiasi.

Selain itu, BG berpotensi didukung partai politik besar seperti PDI Perjuangan dan partai lain.

"Karena kemampuannya membangun jaringan dengan partai politik sejak menjadi pimpinan Polri sampai sekarang," ujar Boni dikutip dari Tribunnews.com, Rabu (6/12/2017).

Selain itu, jaringan BG yang begitu luas akan menjadi kekuatan baginya dalam menarik dukungan para pengusaha.

Dari berbagai survei belakangan (dan Indo Barometer) terlihat bahwa BG adalah sosok yang potensial menjadi calon wakil presiden Jokowi.

"Ia dikenal luas oleh masyarakat pemilih dan elektabilitasnya potensial untuk didongkrak lebih tinggi lagi ke depan," jelasnya.

3. Sri Mulyani

Sri Mulyani
Sri Mulyani ()

Nama menteri keuangan Indonesia ini, mencuat sebagai Cawapres ideal Jokowi. 

Bahkan, ia dinobatkan sebagai menteri keuangan terbaik dunia.

Namun sayangnya menurut Boni, SMI demikian sapaanya, tidak mempunyai dukungan partai dan tersandung isu dugaan kasus Bank Century yang sampai hari ini masih menjadi momok yang mengancam citranya dalam politik.

4. Tito Karnavian

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Kamis (9/11/2017). (KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA)
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Kamis (9/11/2017). (KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA) (http://nasional.kompas.com/)

Kapolri Jenderal Tito Karnavian adalah sosok Kapolri yang tegas dan nasionalis sejati.

Ia cerdas dan professional.

Pria asal Palembang ini disebut-sebut akan mampu mendongkrak suara Jokowi.

Namun sayangnya Tito belum memperlihatkan ketertarikan untuk terjun ke dalam politik praktis.

"Saya tidak begitu yakin Tito tertarik untuk masuk ke dunia politik sekarang ini," ujarnya.

 5. Agus Harimurti Yudhoyono

Calon gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono didampingi istrinya, Annisa Pohan, saat mengunjungi permukiman warga di Kelurahan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (24/12/2016).
Calon gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono didampingi istrinya, Annisa Pohan, saat mengunjungi permukiman warga di Kelurahan Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (24/12/2016). (Kompas.com/Nursita Sari)

Nama AHY mempunyai dukungan partai yang jelas.

Ia juga cukup cerdas sebagai anak muda.

Sayangnya, AHY menurut Boni tidak mempunyai pengalaman yang memadai dalam berpolitik sehingga dianggap sebagai politisi karbitan.

"AHY baru potensial menjadi cawapres di pilpres 2024 setelah ia belajar membangun jaringan dan citra di tengah masyarakat politik," jelasnya.

 6. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Youtube)

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok adalah sosok yang juga ideal karena bisa menarik dukungan dari kaum muda progresif dan kelompok minoritas.

Sayangnya Ahok sudah “disembelih” dalam pilkada dki Jakarta 2017 sehingga sulit bisa digadang sebagai wapres Jokowi.

"Sosok Ahok ideal tetapi secara politis, ia bukan sosok yang realistis untuk memenangkan pilpres 2019 karena justru memperkuat isu kelompok radikal yang ingin memanfaatkan agama sebagai modal politik," kata dia.

7. Rini Soemarno

Rini Soemarno
Rini Soemarno ()

Menteri BUMN Rini Soemarno adalah figur yang fenomenal dalam pemerintahan Jokowi.

Sebagai Menteri BUMN ia ditentang banyak kekuatan politk di parlemen namun ia berhasil melewati semua badai politik.

"Ia adalah perempuan yang kuat. Sayangnya, RS bisa memicu perlawanan yang serius dari partai pendukung pemerintah jika ia digadang sebaga wapres Jokowi," jelasnya.

8. Gatot Nurmantyo

jendral TNI Gatot Novantyo
jendral TNI Gatot Novantyo (IST)

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo adalah Panglima TNI yang cukup kontroversial.

Ia sempat diisukan untuk menjadi capres melawan Jokowi, dan juga diisukan menjadi cawapres Prabowo Subianto di 2019.

Semua isu itu ditepis oleh konsistensinya menjaga pemerintahan Presiden Jokowi.

Jika Jokowi memilih Gatot, Jokowi akan mendapatkan banyak kekuatan. 

Apalagi melihat citra mantan Panglima TNI itu masih begitu bagus ditengah masyarakat. 

Ia sosok yang cerdas, tegas dan berasal dari kalangan militer. 

Bahkan dibeberapa survei saat nama Jokowi dipasangan dengan Gatot keduanya langsung melambung meninggalkan beberapa nama lain.

9. Susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti
Susi Pudjiastuti ()

Sosok perempuan lain yang ideal adalah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti.

Susi dinilai punya popularitas dan integritas yang tinggi. 

Itu membuatnya layak disandingkan dengan Jokowi.

Ia pekerja tulen seperti Jokowi.

Sayangnya, Susi tidak mempunyai dukungan partai yang memadai.

Tapi, jika Jokowi berani memilih Susi beberapa survei bahkan membuat angka fantastis untuk pasangan ini.

10. Mahfud MD

Mahfud MD
Mahfud MD ()

Nama terakhir yang masuk dalam Cawapres ideal pilihan Jokowi adalah Mahfud MD. 

Ia sosok yang cerdas dan dianggap mampu mendongkrak suara Jokowi. 

Bahkan sebuah majalah mingguan nasional edisi 4 – 11 Maret 2018 pekan ini menyebut Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara se-Indonesia itu sebagai salah satu yang masuk dalam pertimbangan Jokowi, antara lain, bersama Jusuf Kalla dan Moeldoko.

Ketika dimintai tanggapannya tentang hal itu, Mahfud MD mengatakan dirinya bukan tidak mau tetapi menyatakan tidak ingin menjadi cawapres.

“Banyak yang ingin menjadi cawapres, membuat baliho, membuat Tim Kampanye, dan memasang namanya di survei-survei. Saya tidak akan melakukan itu, saya tidak akan aktif, akan mengalir saja," kata Mahfud.

Ketika ditanya, mengapa tidak mau menjadi cawapres, sekali lagi Mahfud mengatakan dirinya bukan tidak mau, melainkan tidak ingin.

Dikatakannya, antara tidak ingin dan tidak mau itu berbeda.

"Tidak ingin artinya tidak berminat melakukan langkah-langkah aktif untuk dicalonkan melainkan akan datar-datar saja. Tetapi kalau tidak mau artinya menolak. Padahal dia tidak mengatakan tidak mau atau menolak. Mahfud menyatakan dirinya bukan tidak mau tetapi siap berdialog secara terbuka, alamiah, dan sesuai aspirasi rakyat untuk kebaikan bagi Indonesia," jelasnya.

Mahfud mengatakan jika dirinya menyebut ingin menjadi cawapres nanti bisa dinilai tidak tahu diri alias ge-er.

"Tetapi jika mengatakan tidak mau nanti dibilang sombong," ujarnya.

Mahfud menutup keterangannya dengan mengatakan, "Siapapun pasangan calon yang akan muncul nanti yang penting Pilpres lancar dan Indonesia menjadi lebih baik."

Editor: Evan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved