Bursa Efek Indonesia: Investasi Mudah, Terjangkau dan Syariah

Kabar tentang investasi bodong merupakan kisah lama yang selalu terulang. Fakta tentang penipuan berkedok investasi

Bursa Efek Indonesia: Investasi Mudah, Terjangkau dan Syariah
Tribunnews
Grafik indeks perdagangan terpampang pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia 2016 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (30/12/2016). Perdagangan bursa saham 2016 Indonesia ditutup dengan level 5.296 poin, atau naik sebesar 15,32% dibandingkan posisi penutupan tahun lalu 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kabar tentang investasi bodong merupakan kisah lama yang selalu terulang. Fakta tentang penipuan berkedok investasi itu tak akan pernah habis jika publik tidak dibekali informasi yang memadai, dan mudah tergoda iming-iming keuntungan instan yang sebenarnya menyalahi prinsip-prinsip berinvestasi. Tak jarang pihak-pihak yang menawarkan peluang investasi mengklaim nama otoritas, meski sebenarnya tidak mengantongi izin resmi. Fenomena satu ini kerap terjadi di lingkungan pasar modal, sehingga tak jarang menimbulkan trauma bagi masyarakat untuk terus berinvestasi.

Pada sisi lain, otoritas pasar modal terus berupaya merelaksasi berbagai ketentuan di bidang investasi untuk memudahkan para investor menanamkan modal. Di antaranya menurunkan nilai minimum investasi, yang kemudian diterjemahkan melalui produk pasar modal yang ditawarkan. Meski demikian, tak jarang ditemui masyarakat yang beranggapan bahwa berinvestasi melalui produk pasar modal harus didukung dana besar. Padahal, keluhan-keluhan seperti ini sudah lama dicarikan solusinya melalui berbagai instrumen investasi.

Tak jarang pula ada anggapan bahwa berinvestasi di Pasar Modal haram hukumnya karena tidak memenuhi kaidah atau ajaran agama. Menjawab kebutuhan masyarakat yang menghendaki investasi yang memenuhi kaidah syariah, Bursa Efek Indonesia (BEI) sesungguhnya telah mengembangkan segmen khusus agar bisa menepis anggapan-anggapan negatif tentang investasi di Pasar Modal. Sudah sekitar enam tahun, Industri Pasar Modal Indonesia mengembangkan dengan serius konsep Pasar Modal Syariah.

Bursa Efek Indonesia pun terus melakukan edukasi bagi masyarakat bahwa investasi di Pasar Modal Syariah tidak hanya relatif aman karena didukung peraturan yang memadai, namun jugamengusung prinsip “MUDAH, TERJANGKAU, dan SYARIAH”. Ada makna penting terkandung dalam jargon BEI tersebut. MUDAH karena dengan berinvestasi di Pasar Modal Syariah, masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan untuk membuka rekening saham dengan akun syariah di 12 Perusahaan Efek (PE) Anggota BEI. Adapun 12 perusahaan efek yang telah mengembangkan layanan Shariah Online Trading System (AB-SOTS) meliputi, Indo Premier Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, BNI Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas Indonesia, Panin Sekuritas, Phintraco Sekuritas, Sucor Sekuritas, FAC Sekuritas Indonesia, MNC Sekuritas, Henan Putihrai Sekuritas, serta Phillip Sekuritas Indonesia.

Dengan berinvestasi melalui layanan SOTS, para investor dapat dengan mudah berinvestasi sesuai kaidah syariah karena dalam sistem tersebut saham non-syariah telah diblokir otomatis. Dengan cara ini, investor yang tidak atau kurang memahami kaidah syariah juga dapat terhindar dari bentuk transaksi yang tidak memenuhi kaidah syariah, seperti margin trading, short sellingdan beberapa bentuk transaksi dilarang syariah lainnya. Fasilitas layanan SOTS didukung oleh layanan Rekening Dana Nasabah (RDN) Syariah. Dengan demikian masyarakat tidak perlu khawatir karena dana tunai dalam bentuk RDN disimpan oleh Bank Syariah yang resmi ditunjuk Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menjadi administrator RDN.

Investasi pada saham syariah juga TERJANGKAU. Otoritas pasar modal telah membuktikan komitmen dalam menyederhanakan aturan sehingga investasi di pasar saham tidak lagi eksklusif bagi mereka yang punya modal puluhan juta Rupiah.  Saat ini, cukup dengan menyetorkan deposit awal senilai Rp100.000 calon investor sudah bisa berinvestasi.  Dipastikan bahwa kemudahan yang ditawarkan ini memenuhi kaidah syariah, karena dana deposit awal senilai Rp100.000 maupun dana investasi lanjutan dari para calon investor akan langsung disetorkan oleh AB-SOTS ke rekening di Bank Syariah atas nama masing-masing investor. Rekening RDN milik investor terkoneksi langsung dengan Sub-Rekening Efek (SRE) di KSEI.

Sudah tentu investasi di Pasar Modal Syariah harus memenuhi prinsip-prinsip SYARIAH. Investasi halal di Pasar Modal sudah sekian tahun diimplementasikan dengan perbaikan dari tahun ke tahun. Kaidah investasi syariah tentu saja mencakup instrumen atau produk investasi maupun cara bertransaksi.  Pasar Modal Syariah Indonesia telah memiliki landasan hukum yang jelas baik berupa Fatwa maupun Peraturan OJK untuk mendukung kedua aspek tersebut. Berdasarkan jenis akadnya, saham pada dasarnya sudah sesuai syariah karena mencerminkan suatu bentuk kerjasama (Syirkah Al-Musahamah). Namun, tidak semua saham memenuhi prinsip saham syariah jika dilihat dari aspek bisnisnya. Untuk saham-saham yang sesuai syariah, pemilihannya diseleksi langsung oleh OJK dan selanjutkan dibuat Daftar Efek Syariah (DES) yang di-review setiap 6 bulan.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) telah menerbitkan Fatwa Nomor 80 tentang “Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Di Pasar Reguler Bursa Efek”. Tujuannya untuk mengatur mekanisme transaksi di pasar modal. Fatwa ini pun telah dijadikan acuan dalam pengembangan layanan Shariah Online Trading System (SOTS). (*)

Penulis: Idandi Meika Jovanka
Editor: Evan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved