Himawan : Tapak Tilas Kelenteng Fuk Tet Che, Dulu Rawan Kecelakaan

Penasehat sekaligus pengelola Kelenteng Fuk Tet Che, Himawan menceritakan tapak tilas sejarah Kelenteng Fuk Tet Che

Himawan : Tapak Tilas Kelenteng Fuk Tet Che, Dulu Rawan Kecelakaan
Bangka Pos / Ardhina Trisilia Sakti
Kemeriahan umat thionghoa berdoa di Kelenteng Fuk Tet Che 

Laporan wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Penasehat sekaligus pengelola Kelenteng Fuk Tet Che, Himawan menceritakan tapak tilas  sejarah Kelenteng Fuk Tet Che yang berlokasi di perempatan lampu merah Semabung Lama Kota Pangkalpinang.

Dikatakannya tak segagah seperti sekarang, kelenteng yang berdiri sejak zaman penjajahan Belanda ini awalnya dibangun untuk menjaga keamanan lalu lintas.

Ditemui bangkapos.com saat peringatan ulang tahun Kelenteng Fuk Tet Che, Himawan menceritakan kelenteng Fuk Tet Che dulu kala berdiri dengan bahan bangunan seadanya, kelenteng ini berukuran kecil tepat berada di samping pohon besar yang berdiri di samping jalan perempatan Semabung Lama.

"Dulu ada cerita sejarahnya di sini simpang tiga. Lalu lintas kurang aman saat itu makanya dibangun tepekong dan berkembang semakin besar dibangun menjadi kelenteng. Dulu banyak terjadi kecelakaan," cerita pengusaha mobil berusia lebih dari 60 tahun ini, Minggu (18/3).

Di Pangkalpinang terdapat dua kelenteng besar yang sebagai tempat umat thionghoa Kota Pangkalpinang bersembahyang seperti Kelenteng Kuan Tie Miaw dan Kelenteng Fuk Tet Che.

Tak salah apabila meski luas kelenteng tak begitu besar dengan parkir yang terbatas di pinggir jalan raya, kelenteng Fuk Tet Che memiliki ratusan umat yang biasa bersembahyang.

"Peringatan hari ulang tahun kelenteng ini untuk merayakan keberagaman dan mendoakan keselamatan masyarakat Pangkalpinang. Di Bangka, semua perbedaan tetap bersatu. Kelenteng Fuk Tet Che bukan hanya milik umat Tionghoa namun juga aset Kota Pangkalpinang karena berdiri di pinggir jalan protokol dan kini menjadi icon," tukasnya.

Diketahui kelenteng Fuk Tet Che selalu memperingati ulang tahun Dewa Bumi setiap tahun. Namun perayaan ulang tahun kelenteng ini sempat vakum tak diperingati 2016 lalu karena musibah kebakaran menghanguskan kelenteng.

Tak ingin mengulangi kejadian pahit yang sama, kini pihak pengelola kelenteng Fuk Tet Che pun mulai menata lilin dan garu di teras kelenteng. Bahan bangunannya pun dipilih yang terbaik agar tak mudah dimakan api.

"Kalau tradisi sembahyang di negara maju seperti Singapore, lilinnya memang tak boleh ada yang di dalam kelenteng. Namun kita (Pangkalpinang) masih sulit merubah tradisi ini. Sebagai antisipasi, bahan bangunan kelenteng yang dulu menggunakan rangka kayu sekarang sudah kita pasang cor beton agar tak ada kebakaran lagi," tutup Himawan.(*)

Penulis: Ardhina Trisila Sakti
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved