Video: Konflik Buaya Dengan Manusia di Bangka Belitung Disebabkan Ini

Buaya di Bangka Belitung merupakan buaya muara dan memang terkenal dengan keganasan. Berukuran sampai empat meter

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kasus konflik antar manusia dengan buaya mengalami peningkatan sejak tahun 2016, berdasarkan catatan Resort Koservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bangka Belitung (Babel).

Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Air (KSDA) Bangka Belitung, Yusmono mengatakan konflik yang terjadi antara manusia dengan hewan yang dilindungi itu, lantaran habitat mereka terganggu oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan tambang di aliran sungai dan perambahan kawasan hutan.

"Habitatnya rusak misalnya sungai jadi tambang, perambahan hutan jadi kebun dan tambang. Akhirnya berdampak pada habitat buaya dan satwa yang jadi makanan buaya jadi berkurang. Mau tidak mau mereka mencari makan disekitar aktivitas manusia, dan juga sebaliknya manusia yang mendekati habitat buaya," katanya, Jum'at (17/3/2018).

Ia menambahkan, habitat buaya yang umumnya berada di sungai yang tenang dan rawa-rawa.

"Misalnya dari dulu buaya itu disitu saja, tapi aktivitas manusia yang mendekat. Inilah yang menimbulkan konflik antara buaya dan manusia. Karena buaya ini kan tidak memiliki akal, mereka hanya menggunakan insting ketika lapar mereka mencari makanan. Kalau makananya mulai berkurang seperti monyet, otomatis mereka berpindah tempat," jelasnya.

Menurutnya, untuk menghentikan konflik manusia dengan buaya harus lebih berhati-hati. Pasalnya, buaya merupakan salah satu binatang yang sulit untuk dikendalikan.

"Sebenarnya manusia harus hati-hati, juga kalau itu tau habitat buaya jangan melakukan aktivitas disitu. Kita enggak bisa mengendalikan, karena satwa liar dan ini harus dialam. Manusianya yang harus mengontrol diri," tambahnya.

Ia menjelaskan buaya di Babel ini merupakan buaya muara dan memang terkenal dengan keganasan.

Umumnya, buaya jenis ini berukuran sampai empat meter. Buaya muara ini biasanya berada di muara sungai yang tenang dan rawa-rawa.

"Kebanyakan di Babel buaya muara yang ganas, memiliki moncong lebih pendek dan agak tumpul, warnanya lebih gelap, memiliki rahang dan gigi yang kuat, dan sabetan ekornya keras. Berbeda dengan buaya sinyulong, biasanya lebih panjang dan kecil," jelasnya.

Baca selengkapnya di Bangka Pos dan Koran BN edisi cetak Selasa 20 Maret 2018.

Penulis: krisyanidayati
Editor: rusmiadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved