Terancam Krisis Monoter Jilid II? Rp 13.800 per dollar AS, Pasar Berpeluang Tinggalkan Rupiah

Bahaya jika tak terkendali. Kurs rupiah hampir menyentuh Rp 13.800 per dollar AS pada pagi ini, Jumat (23) di tengah kekhawatiran pasar global

Terancam Krisis Monoter Jilid II? Rp 13.800 per dollar AS, Pasar Berpeluang Tinggalkan Rupiah
KOMPAS.com/Kristianto Purnomo
Ilustrasi 

Apalagi, Wall Street ditutup positif setelah Trump mengecualikan Kanada dan Meksiko dari penerapan pajak impor baja dan aluminium.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Prasuanmitra menyebut, rupiah memang berpeluang menguat kembali. "BI akan intervensi ke pasar apabila rupiah turun tajam," katanya, Kamis.

Prediksi Putu, hari ini, nilai tukar rupiah akan kembali ke bawah Rp 13.800 dan bergerak antara Rp 13.750–Rp 13.830 per dollar AS.

Asuransi jiwa tak banyak terdampak

Tren nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat (AS) menunjukan pelemahan. Namun hal ini diyakini tak akan banyak berpengaruh bagi pemain asuransi jiwa.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa (AAJI) Hendrisman Rahim menyebut saat ini portofolio investasi para pelaku industri yang berdenominasi dollar Amerika Serikat cenderung turun dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, investasi dalam bentuk rupiah terus meningkat. Hal ini di antaranya karena pilihan investasi dalam bentuk rupiah yang disebutnya lebih variatif untuk dipilih perusahaan asuransi jiwa.

Karena itu, eksposure dari pelemahan mata uang ini diyakininya tak akan besar.

Ilustrasi asuransi
Ilustrasi asuransi (Thinkstock/Nelosa)

Ketua Bidang Best Practice AAJI Rianto Djojosugito menambahkan hal ini juga dipengaruhi oleh minimnya produk asuransi yang menggunakan mata uang dollar.

Untuk produk seperti ini tentunya penempatan investasi harus disesuaikan dengan mata uang yang digunakan.

Sementara permintaan produk yang berdenominasi dollar di pasaran pun disebutnya cenderung menurun. "Sehingga secara umum dampak dari pelemahan nilai tukar ini tak akan besar," kata dia belum lama ini.

Rupiah berpotensi menguat pekan depan

Pelemahan nilai tukar rupiah rupanya belum usai pasca pengumuman kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat oleh The Federal Reserves kemarin.

Sentimen negatif kembali berhembus dar Negeri Paman Sam dan kembali menekan rupiah akhir pekan ini.

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump mengambil langkah untuk menetapkan tarif impor bagi barang-barang asal negeri China dengan nilai mencapai US$ 60 miliar.

Serangan balik dilakukan China dengan mengenakan tarif produk impor dari AS mulai dari baja hingga daging babi yang nilai perdagangannya sampai US$ 3 miliar.

Kekhawatiran terhadap adanya perang dagang kembali mencuat di tengah para pelaku pasar.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menilai dampak terhadap pasar Indonesia memang tak datang langsung dari AS, tetapi dari China.

Pasalnya, porsi ekspor Indonesia saat ini masih didominasi oleh China. Jika perang dagang ini mengganggu dan memperlambat perekonomian China, maka rupiah pun akan semakin tertekan.

"Kebijakan tarif impor antara kedua negara ini memang masih dalam negosiasi. Kita baru bisa benar-benar memperhitungkan dampak ke Indonesia setelah ada daftar barang yang kena tarif secara rinci," ujar Lana, (23/3).

Mengutip Bloomberg, Jumat (23/3), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,2% ke level Rp 13.782 per dollar AS. Dalam sepekan, mata uang Garuda telah terdepresiasi sebesar 0,23%.

Dollar AS
Dollar AS (AFP)

Tak cuma rupiah, isu perang dagang AS-China ini juga menghantam mata uang Won Korea. Sebagai salah satu negara dengan ekspor paling besar ke China, sepanjang pekan ini mata uang Korsel terdepresiasi hingga 1,52%.

Dari dalam negeri, belum ada rilis data ekonomi terbaru yang akan menopang pergerakan rupiah pekan depan. Justru, sentimen negatif datang dari ekspektasi pasar yang memudar terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini.

"Kalau benar ekonomi tumbuh lebih kecil dari tahun lalu, pasar akan semakin ragu target PDB 5,3% akan tercapai," ujar Lana.

Sebab artinya, dibutuhkan prestasi perekonomian yang sangat signifikan untuk bisa mendongrak pertumbuhan ke level yang diharapkan di akhir tahun nanti.

Pekan depan, Lana melihat rupiah masih akan dibayangi isu kebijakan tarif impor antara AS dan China. Menurutnya, jika isu cenderung mereda, rupiah berkesempatan menguat meski tak begitu signifikan.

Selain itu, "kondisi pasar yang tenang juga bisa menjadi momentum yang tepat untu Bank Indonesia kembali melakukan intervensi," katanya.

Lana memproyeksi rupiah menguat tipis dan bergerak dalam rentang yang cukup sempit yaitu antara Rp 13.730-Rp 13.750 per dollar AS sepanjang pekan depan. *

Editor: Evan
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help