Benarkah Matahari Akan Kehabisan Bahan Bakar, Segini Sisa Usianya

Mari kita merenungkan umur galaksi tempat kita tinggal, Bima Sakti. Jika kita melihat galaksi sebagai kumpulan bintang, ada beberapa

Benarkah Matahari Akan Kehabisan Bahan Bakar, Segini Sisa Usianya
Youtube
Fenomena ekuinoks, yaitu peristiwa saat Matahari tepat berada di garis ekuator Bumi. 

BANGKAPOS.COM - Mari kita merenungkan umur galaksi tempat kita tinggal, Bima Sakti. Jika kita melihat galaksi sebagai kumpulan bintang, ada beberapa bintang yang seperti matahari kita, dan yang lain tidak.

Matahari mengkonsumsi bahan bakar, mengubah hidrogen menjadi helium melalui fusi. Hal tersebut sudah terjadi selama 5 miliar tahun, dan mungkin akan berlangsung selama 5 miliar tahun lagi, sebelum Matahari mengembang menjadi raksasa merah, melepaskan lapisan luarnya dan mengecil menjadi bintang kerdil putih, dan mendingin.

Jadi jika sebuah galaksi seperti Bima Sakti hanya berupa kumpulan bintang,  Akankah ia mati ketika bintang yang terakhir mati?

Tapi galaksi lebih dari sekedar bintang. Ada awan gas besar dan debu. Beberapa dari mereka mengandung hidrogen primordial yang tersisa dari pembentukan alam semesta 13,8 miliar tahun yang lalu.

Semua bintang di Bima Sakti terbentuk dari hidrogen primordial ini. Galaksi berukuran serupa lainnya menghasilkan 7 bayi bintang setiap tahun. Sayangnya, kita telah menggunakan 90% dari hidrogen, dan pembentukan bintang akan melambat sampai—baik secara kiasan maupun harfiah-kehabisan gas.

Bima Sakti akan mati setelah semua gas pembentuk bintang digunakan, saat semua bintang yang ada dan semua bintang yang belum lahir mati. Bintang seperti matahari kita hanya bisa bertahan selama 10 miliar tahun atau lebih, tapi yang terkecil, bintang kerdil merah dapat bertahan selama beberapa triliun tahun.

Galaksi pasti akan berakhir ketika  semua gas terbakar dan setiap bintang terbakar. Setidaknya, itulah yang akan terjadi jika Bima Sakti hanya sendirian di alam semesta.

Untungnya, kita dikelilingi oleh puluhan galaksi kerdil, yang bisa bergabung ke Bima Sakti kita. Setiap penggabungan  membawa bibit segar bintang dan hidrogen lebih untuk menyalakan tungku pembentukan bintang.

Ada galaksi yang lebih besar di luar sana juga. Andromeda yang terdekat dengan Bima Sakti sekarang, dan akan bertabrakan dengan Bima Sakti dalam beberapa miliar tahun ke depan.

Ketika tabrakan terjadi, keduanya akan bergabung. Kemudian akan muncul era baru formasi bintang ketika gas yang belum terpakai di kedua galaksi bercampur dan digunakan.

Akhirnya, gravitasi masing-masing galaksi akan menarik satu sama lain, membuat galaksi bergabung  menjadi sebuah galaksi elips raksasa.

Kita melihat contoh galaksi fosil ini ketika kita melihat keluar ke alam semesta. Adalah m49, sebuah galaksi elips supermasif. Siapa yang tahu berapa banyak besar galaksi spiral yang menopang pembakaran di mesin kosmik raksasa tersebut?

Galaksi elips adalah galaksi mati yang berjalan. Mereka telah menggunakan semua gas pembentuk bintang mereka, yang tersisa hanyalah  bintang yang bertahan lama. Tapi pada akhirnya, mereka akan padam satu demi satu.

Selama galaksi memiliki gas untuk pembentukan bintang, mereka akan terus berkembang. Setelah galaksi atau galaksi gabungan telah menggunakan semua gas pembentuk bintang, mereka dalam perjalanan menuju kematian.

[Lutfi Fauziah/Phys.org]

Editor: Evan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved