Wati Minta Anaknya yang Diadili Segera Bebas, Ini Alasannya

Inikan karena dilaporkan oleh panitia (tambang). Maka sebenarnya kami bisa melapor balik (soal tambang ilegal

Wati Minta Anaknya yang Diadili Segera Bebas, Ini Alasannya
Bangkapos/Fery Laskari
Ny Wati, warga Desa Airlintang Kecamatan Tempilang Babar datang memberikan dukungan moril pada anaknya, Anga (32) saat diadili di PN Sungailiat, Rabu (18/4/2018). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari


BANGKAPOS.COM, BANGKA --
Ny Wati, warga asal Desa Airlintang Kecamatan Tempilang Bangka Barat, berharap proses hukum yang menimpa, Angga (32), anaknya, cepat diselesaikan.

Dia juga meminta majelis hakim meringankan hukuman terkait dugaan pembakaran ponton tambang ilegal di Perairan Pantai Kuning Tempilang Bangka Barat, saat kerusuhan 10 Desember 2017 silam.

Suasana kedatangan massa dari Kecamatan Tempilang di PN Sungailiat Bangka
Suasana kedatangan massa dari Kecamatan Tempilang di PN Sungailiat Bangka (Bangka Pos/Fery Laskari)

"Kalau bisa saya minta anak saya bisa dikeluarkan secepat mungkin, sidangnya dipercepat, dan diringankan putusannya. Masalahnya dia itu, Angga anak saya banyak tanggungan. Dia merupakan ulang punggung keluarga. Yang dihidupnya banyak, adiknya yang masih kuliah dan tiga orang keponakan, termasuk saya," kata Wati.

Wati mengaku datang ke Pengadilan Negeri (PN) Sungaliat, Rabu (18/4/2018) bersama tak kurang dari 100 orang dari Kecamatan Tempilang ke Pengadilan Negeri Sungailiat, untuk memberikan dukungan moril, pada Angga dan lima orang lainnya yang diadili dalam kasus pembakaran yang dimaksud.

Pembakaran ponton tambang ilegal terjadi, karena seorang penambang ilegal yang merupakan warga pendatang membunuh warga setempat, akhir 2017 lalu.

"Suami saya, orangtua Angga, sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sementara Angga masih bujangan, dia sebagai tulang punggung keluarga, tapi kini dia dipenjara," katanya.

Saat kejadian 10 Desember 2017 kata Wati, bukan hanya Angga dan lima orang pelaku (yang diadili) yang terlibat.

Namun sebagian besar warga di tiga desa di Kecamatan Tempilang, ikut serta.

"Banyak orang yang melakukan di kerusuhan itu. Padahal waktu itu anak kami (Angga) bangun jam sepuluh, tengah malam, api sudah dasyat. Saya sempat bilang tidak usah pergi (ke lokasi pembakaran ponton), besok mau kerja, tapi Angga tetap pergi," kenang Wati.

Hingga akhirnya, kasus pengrusakan dan pembakaran ini dilaporkan kepada polisi.

Angga dan lima orang warga lainnya di Kecamatan tempilang ditangkap, dan kini diadili.

"Inikan karena dilaporkan oleh panitia (tambang). Maka sebenarnya kami bisa melapor balik (soal tambang ilegal yang dikelola panitia).Apalagi jika hukuman anak saya sekian-sekian (berat), karena kami sakit hati sebagai orangtua," katanya. (*)

Penulis: ferylaskari
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved