Nilai Tukar Rupiah Mengkhawatirkan, BUMN Dimina Tak Borong Dollar

Tekanan terhadap rupiah tampaknya masih akan berlangsung hingga pertengahan tahun nanti. Bank Indonesia (BI) mengimbau badan usaha

Nilai Tukar Rupiah Mengkhawatirkan, BUMN Dimina Tak Borong Dollar
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Logo Bank Indonesia (BI) di pagar kompleks kantor BI. 

BANGKAPOS.COM - Tekanan terhadap rupiah tampaknya masih akan berlangsung hingga pertengahan tahun nanti. Bank Indonesia (BI) mengimbau badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki kebutuhan valuta asing agar tidak memborong dollar Amerika Serikat (AS) di pasar untuk saat ini.

Jika BUMN masuk, beban rupiah semakin berat dan menguras cadangan devisa untuk operasi pasar.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatat, kurs rupiah menguat tipis ke level 13.879 per dollar AS pada Jumat (29/4/2018) dari sehari sebelumnya di Rp 13.930. Toh, nilai tukar mata uang garuda tetap mengkhawatirkan.

Apalagi, tekanan terhadap rupiah masih akan terjadi, seiring rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Plus, kuartal kedua merupakan periode pembayaran dividen, sehingga menyedot dollar AS di pasar.

Tekanan akan bertambah jika BUMN ikut-ikutan memborong dollar AS untuk persiapan pembayaran utang jatuh tempo yang biasanya pada September.

Gubernur BI Agus Martowardojo berharap, BUMN yang membutuhkan valuta asing lebih baik tidak serta merta masuk ke pasar terlebih dahulu.

Terlebih, jika kebutuhan valuta asing untuk membayar utang yang jatuh tempo pada kuartal ketiga dan keempat mendatang.

"Jika utang jatuh tempo September atau November dan Desember, tidak perlu mengadakan valuta asingnya sekarang," pinta Agus akhir pakan lalu. Data Neraca Pembayaran Indonesia per Desember 2017 menunjukkan, total utang luar negeri swasta yang akan jatuh tempo kurang dari setahun ke depan mencapai US$ 46,06 miliar.

Agus meminta, perusahaan pelat merah yang membutuhkan valuta asing untuk keperluan di semester kedua nanti lebih baik mencarinya melalui cara forward. Ia juga mengimbau BUMN untuk melakukan lindung nilai atawa hedging.

Dengan begitu, bisa meredam risiko nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.

Bank sentral, Agus menambahkan, juga akan meningkatkan intensitas transaksi swap untuk mengurangi tekanan rupiah.

Halaman
12
Editor: Evan
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help