Kalajengking di Yogyakarta Justru Digoreng Untuk Dimakan Bukan Diambil Racunnya

setelah ekor yang beracun dilepas dengan cara dipotong, kolojengking menjadi binatang tidak berbahaya lalu bisa dibakar dan dimakan.

Kalajengking di Yogyakarta Justru Digoreng Untuk Dimakan Bukan Diambil Racunnya
Istimewa
Kalajengking 

BANGKAPOS.COM - Di kawasan pedesaan Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY), ketika musim kemarau tiba akan ditandai dengan pohon-pohon jati yang meranggas daunnya dan juga rumpun bambu yang tampak mengering.

Daun-daun bambu kering yang jatuh menumpuk dan di DIY disebut ‘uwuh’ itu biasanya dikumpulkan dan kemudian dibakar  saat sore hari.

Kegiatan membakar daun bambu yang kemudian dikenal dengan nama ‘ngobong uwuh’ itu akan tambah meriah jika disertai acara membakar singkong.

Tapi jika tak ada singkong, hewan beruas berbadan raksasa dan beracun yang di DIY disebut kolojengking /ketonggeng (kalajengking) pun bisa dibakar dan disantap karena rasanya lezat dan gurih.

Baca: 4 Khasiat Racun Kalajengking bagi Kesehatan, Jokowi Sebut Harganya Rp 145 Miliar Per Liter

Di musim kemarau, kolojengking banyak bersarang di lubang-lubang tanah di bawah rumpun bambu dan untuk menangkap sebenarnya cukup mudah.

Caranya dengan menggunakan lidi dari daun kelapa yang masih muda lalu diikat ujungnya berbentuk lingkaran kecil. setelah itu batang lidi dimasukan ke lingkaran itu.

Lingkaran lidi yang merupakan jebakan itu kemudian dimasukkan ke dalam liang tempat kolojengking bersarang.

Biasanya kolojengking akan mencapit lidi itu sehingga ketika lidi ditarik kakinya  langsung terjerat.

Di kawasan DIY, kolojengking  merupakan kalajengking bertubuh raksasa karena bisa sebesar telunjuk jari orang dewasa dan tampak sangat mengerikan.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help