Ini Kronologi Lengkap KPK Tangkap Tangan Anggota DPR Amin Santono, Mirip Kasus Dewie YL

Satu lagi anggota DPR RI tertangkap tangan mencuri uang rakyat. Kasus OTT sebelumnya ternyata belum membuat para koruptor bergidik.

Ini Kronologi Lengkap KPK Tangkap Tangan Anggota DPR Amin Santono, Mirip Kasus Dewie YL
DOK PRIBADI
Amin Santono, Anggota Fraksi Partai Demokrat DPR RI ditangkap tangan oleh KPK menerima suap untuk pembahasan APBN Perubahan 2018 

BANGKAPOS.COM - Satu lagi anggota DPR RI tertangkap tangan mencuri uang rakyat.

Kasus OTT sebelumnya ternyata belum membuat para koruptor bergidik.

Penyidik KPK mengungkap perkara dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji mengenai usulan dana perimbangan keuangan daerah pada RAPBN Perubahan 2018.

//

Empat orang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, salah satunya adalah Amin Santono, anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Demokrat.

Suasana konferensi pers KPK mengenai operasi tangkp tangan anggota Komisi IX DPR RI Amin Santono di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (5/52018).
Suasana konferensi pers KPK mengenai operasi tangkp tangan anggota Komisi IX DPR RI Amin Santono di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (5/52018). (Fabian Januarius Kuwado)

Ketua KPK Agus Rahardjo menjelaskan, penyidik sudah menyelidiki perkara ini sejak Desember 2017 dan berujung pada operasi tangkap tangan pada Jumat (4/5/2018) kemarin.

"Jumat kemarin, penyidik KPK telah mengamankan sembilan orang," ujar Agus dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (5/5/2018).

Kesembilan orang itu adalah wakil rakyat Amin Santono, Eka Kamaludin selaku pihak swasta atau perantara, Yaya Purnomo selaku Kasie Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Permikiman pada Ditjen Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan dan Ahmad Ghaist selaku swasta atau kontraktor.

Selain itu, diamankan pula dua orang sebagai swasta berinisial DC dan EP serta tiga orang supir yang masing-masing berinisial N, C dan M.

Dari kesembilan orang yang diamankan tersebut, diketahui hanya empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka.

Baca: Ajaib Bukan Hanya Manusia, Batu-batu Ini juga Melahirkan Bayi Khasiatnya Tak Disangka

Kronologi Penangkapan

Agus menjelaskan, operasi tangkap tangan dimulai pada Jumat pukul 19.30 WIB.

Tim penyidik KPK mendapatkan informasi akan ada pertemuan antara Amin, Eka, Yaya dan Ahmad di sebuah restoran di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

"Saat pertemuan berlangsung, tim menduga terjadi penyerahan uang dari AG kepada AMS. Uang sebesar Rp 400 juta dalam pecahan rupiah dipindahkan dari mobil AG ke mobil AMS di parkiran," papar Agus.

Usai uang dipindahkan ke mobilnya, Amin bertolak keluar dari area bandara.

Ketika itulah penyidik menghentikan mobilnya kemudian meringkusnya.

Tim penyidik menemukan uang senilai Rp 400 juta yang dibungkus dalam dua amplop cokelat dan dimasukkan ke dalam tas jinjing bermotif kotak-kotak.

Pada waktu yang sama, tim penyidik pun meringkus orang-orang yang sebelumnya hadir dalam pertemuan di restoran yang sudah berpencar.

Termasuk Yaya Purnomo yang ditangkap di kediamannya di daerah Bekasi.

Baca: Digosipkan Pacaran Sama Lucinta Luna, Aktor Ganteng Ini Juga Disebut Miliki Hutang dan Tukang Tipu

"Selain uang tunai Rp 400 juta, tim juga mengamankan bukti transfer sebesar Rp 100 juta kepada Eka Kamaludin dan dokumen proposal," ujar Agus.

Artinya, penyidik menemukan ada uang sebesar Rp 500 juta dari Ahmad kepada Amin dan Eka.

Commitment fee Penyidik menduga uang itu adalah bagian dari 7 persen commitmen fee yang dijanjikan dari dua proyek di Pemerintah Kabupaten Sumedang.

Proyek itu senilai Rp 25 miliar.

Agus menjelaskan, sumber dana diduga berasal dari para kontraktor di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang.

Ahmad diduga berperan sebagai pengepul dana untuk memenuhi permintaan Amin Santono.

Setelah nyaris melaksanakan pemeriksaan selama 1x24 jam yang berujung pada gelar perkara, penyidik menyimpulkan adanya dugaan tindak pidana korupsi menerima hadiah atau janji oleh Amin bersama-sama Eka Kamaludin dan Yaya Purnomo soal usulan dana perimbangan keuangan daerah pada RAPBN Perubahan Tahun 2018.

Sebagai penerima, Amin, Eka dan Yaya disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Adapun, sebagai pemberi, Ahmad disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Ancaman hukumannya empat tahun hingga 20 tahun penjara.

Saat ini, keempat tersangka masih berada di ruang penyidik KPK.

MOdus suap Amin Santono mirip kasus OTT yang menjerat Anggota DPR RI yang juga politisi Hanura asal Sulawesi Selatan Dewie Yasin Limpo beberapa waktu lalu.

Baca: Mbah Mijan Bocorkan Hal ini Kenapa Acara Karma yang Dibawakan Roy Kiyoshi Ratingnya Tinggi

Anggota DPR RI dari Fraksi Hanura DewiE Yasin Limpo (memakai rompi tahanan) berjalan meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan, Jakarta, Kamis (22/10/2015) dini hari. KPK menahan 5 orang OTT KPK yaitu anggota DPR RI Dewi Yasin Limpo, sekretaris pribadinya Rinelda Bandoso, staf ahlinya Bambang Wahyu Adi, pengusaha Setiadi, dan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Deiai Papua Iranius terkait dugaan pengurusan izin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Papua untuk tahun anggaran 2016.
Anggota DPR RI dari Fraksi Hanura DewiE Yasin Limpo (memakai rompi tahanan) berjalan meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan, Jakarta, Kamis (22/10/2015) dini hari. KPK menahan 5 orang OTT KPK yaitu anggota DPR RI Dewi Yasin Limpo, sekretaris pribadinya Rinelda Bandoso, staf ahlinya Bambang Wahyu Adi, pengusaha Setiadi, dan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Deiai Papua Iranius terkait dugaan pengurusan izin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Papua untuk tahun anggaran 2016. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

(Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Kronologi Penangkapan Anggota DPR Amin Santono oleh KPK", 

Editor: zulkodri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved